Berita Kabupaten Banjar

Budaya Buang Air di Sungai, Bupati Banjar Guru Khalil Sebut Tinja di Sungai Martapura Sebanyak Ini

Itu sebabnya program penghapusan 1.000 unit jamban apung langsung digaungkan H Khalilurrahman sejak awal memimpin Kabupaten Banjar.

Budaya Buang Air di Sungai, Bupati Banjar Guru Khalil Sebut Tinja di Sungai Martapura Sebanyak Ini
banjarmasinpost.co.id/idda royani
BONGKARĀ - Bupati Banjar (berkalung rangkaian melati) menyaksikan pembongkaran jamban apung di Desa Bincaumuara, beberapa waktu lalu. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Budaya turun temurun buang air besar (BAB) di sungai berimplikasi pada banyaknya kotoran (tinja) yang mencemari perairan. Termasuk di antaranya di Sungai Martapura di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel).

Itu sebabnya program penghapusan 1.000 unit jamban apung langsung digaungkan H Khalilurrahman sejak awal memimpin Kabupaten Banjar. "Dulu saat awal-awal memimpin Banjar, jumlah jamban apung di Banjar terdapat sebanyak 9.000 unit," sebutnya, kemarin.

Hal itu juga diungkapkan Guru Khalil saat menyampaikan sambutan pada puncak perayaan Hari Jadi ke-69 Kabupaten Banjar, Kamis (22/08/2019). Saat itu hadir Gubernur H Sabirin Noor dan sejumlah petinggi Kalsel.

Orang nomor satu di Bumi Barakat yang akrab disapa Guri Khalil ini menuturkan jika tiap jamban menyuplai tinja satu kilogram saja sehari, maka tiap hari ada sebanyak sembilan ton tinja yang mencemari sungai.

Baca: Tahan Ledakan, Mobil Dinas Jokowi Mercedes Benz S600 Guard, Ternyata Tak Pakai Tender, Ini Faktanya

Dapat dibayangkan betapa banyaknya bakteri escerichia cili (e-coli) yang terlarut di perairan Banjar, terutama di Sungai Martapura. Namun kini kondisinya mulai membaik menyusul gencarnya penghapusan jamban apung di perairan setempat. Setidakya ratusan unit telah dibongkar dan diganti dengan jamban darat yang sehat.

Sekretaris Daerah Banjar Mochammad Hilman menuturkan sesuai hasil penelitian, kadar e-coli maksimal di sungai 150 pm (part per milion). Tapi di Sungai Martapura berlipat ganda karena mencapai 9.000 hingga 10.000 ppm.

"Bahkan saat musim kemarau meningkat lagi hingga 20.000 ppm," sebut Hilman.

E-coli adalah salah satu jenis spesies utama bakterigram negatif. Pada umumnya, bakteri yang ditemukan oleh Theodor Escherich ini dapat ditemukan dalam usus besar manusia.

Umumnya e-coli tidak berbahaya, tapi beberapa, seperti e-coli tipe O157:H7 dapat mengakibatkan keracunan makanan yang serius pada manusia yaitu diare berdarah karena eksotoksin yang dihasilkan bernama verotoksin.

Toksin ini bekerja dengan cara menghilangkan satu basa adenin dari unit 28S rRNA, sehingga menghentikan sintesis protein.

Baca: Berita Viral, Kepincut Sinden Lalu Jatuh Cinta, Pemuda Banyumas Usia 24 Tahun Nikahi Janda 50 Tahun

Halaman
12
Penulis: Idda Royani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved