Opini

Provokator

Cara-cara provokasi untuk menghasut rakyat belakangan terjadi lagi di Jayapura (Papua), Sorong dan Manokwari (Papua Barat).

Provokator
dokbpost
H Pramono BS

Oleh: Pramono BS

BANJARMASINPOST.CO.ID - DI telinga orang Indonesia kata provokator sudah amat sering didengar. Banyak peristiwa yang dikaitkan dengan peran provokator, bahkan dalam kampanye pemilu yang baru lalu pun banyak orang yang berucap dan bersikap seperti provokator.

Contoh provokator yang sukses adalah saat pengumuman hasil penghitungan suara pemilihan Presiden oleh KPU. Sejak awal seorang tokoh sudah mengumumkan apabila Prabowo kalah maka akan ada people power (demo).

Ternyata benar demonya bukan sekadar unjuk rasa tapi diduga keras disusupi provokator sehingga tujuannya pun melenceng, terjadi anarki, asrama Brimob di Jakarta dibakar, mobil-mobil polisi dibakar, sejumlah orang mati tertembak. Bahkan ada arah untuk makar.

Polisi dan TNI tidak mengakui sebagai pelaku penembakan karena pasukannya dalam tugas pengawalan tidak dibekali dengan senjata api. Sampai sekarang tidak jelas siapa pelakunya.

Baca: Berikan Kesehatan Fantastis Pada Tubuh, Ini 10 Manfaat Rutin Jalan Kaki

Baca: Si Palui : Palandauan

Baca: Liverpool Kokoh di Puncak Klasmen Liga Inggris, Gol Mohamed Saleh Jungkalkan Arsenal 3-1

Baca: Kuasai Pertandingan, Real Madrid Hanya Bermain Imbang 1-1 Lawan Real Valladolid

Kemudian, jutaan umat dari berbagai daerah turun ke jalan di Jakarta menuntut dihukumnya gubernur petahana Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) karena dianggap menistakan agama Islam. Saat itu bersamaan dengan masa kampanye pilkada. Kampanye berbau SARA tak terbendung lagi.

Bangsa ini nyaris terpecah, bangunan persatuan yang sudah kokoh berantakan. Untung pilkada tetap berlangsung dengan aman. Ahok kalah dari rivalnya, Anies Baswedan. Bukan hanya itu Ahok dihukum dua tahun penjara dalam kasus penistaan agama.

Bagi Ahok kalah tak masalah karena sampai sekarang pun rakyat masih menganggap dia seorang pemberani dan jujur. Pujian masih mengalir, kini bahkan menjadi kader partai terbesar, PDIP. Peristiwa di atas sulit untuk disebut tidak ada provokatornya.

Cara-cara provokasi untuk menghasut rakyat belakangan terjadi lagi di Jayapura (Papua), Sorong dan Manokwari (Papua Barat). Penyebabnya juga sepele, mahasiswa asal Papua di Surabaya dan Malang merasa telah dihina oleh masyarakat di sana.

Ada yang bilang mahasiswa asal Papua ini membuang bendera merah putih sehingga mereka dicaci dengan kata-kata kotor. Dari mana rakyat Papua dan Papua Barat tahu, tentu ada yang mengabarkannya karena zaman sekarang tidak ada yang bisa dirahasiakan.

Halaman
123
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved