Berita Internasional

Banjir Bandang Terjang Lokasi Pertandingan Sepakbola di Moroko, 7 Orang Tewas

Hujan lebat, Rabu (28/8) lalu, membuat sungai meluap, dan airnya langsung menerjang Desa Tizert, Region Taroudant, tempat laga tengah berlangsung.

Banjir Bandang Terjang Lokasi Pertandingan Sepakbola di Moroko, 7 Orang Tewas
NET
Ilustrasi banjir bandang.

BANJARMASINPOST.CO.ID, RABAT -Sedikitnya 7 orang dikabarkan tewas, saat banjir bandang menerjang lapangan lokasi pertandingan sepakbola di sebuah desa di Maroko.

Dilansir dari Tribunnews.com, sebuah pertandingan amatir di selatan Maroko berubah jadi duka ketika banjir bandang menghantam, dan dilaporkan menewaskan setidaknya tujuh orang.

Hujan lebat, Rabu (28/8) lalu, membuat sungai meluap, dan airnya langsung menerjang Desa Tizert, Region Taroudant, tempat laga tengah berlangsung.

Kaget ada banjir bandang, penonton laga sepak bola mencoba melarikan diri, dengan beberapa mencoba bertahan di atap. Namun berdasar laporan MAP, tujuh orang tewas.

Diwartakan Sky News, Kamis (29/8), juru bicara pemerintah setempat, Mostapha El Khalfi mengatakan, setidaknya masih ada satu jenazah yang belum ditemukan.

Baca: 2 Warga Papua yang Diduga Pengibar Bendera Bintang Kejora di Depan Istana Kena Pasal Makar

Khalfi menambahkan, pemerintah bakal mengambil langkah-langkah pengendalian banjir berdasarkan cuaca buruk, demi mencegah tragedi serupa di masa yang akan datang.

Warga setempat Mohamed mengungkapkan, saudaranya Hanafi Hilali berusaha berlindung di atas ruang ganti.

Namun, pria yang baru menikah itu tersapu banjir bandang. Saat kejadian, keduanya berada di bangku penonton.

Mohamed menuturkan, dia langsung bergegas untuk menyelamatkan anak serta sepupunya yang masih kecil.

"Saya tak bisa menyelamatkan saudara saya," ratapnya.


via Sky News
Sepakbola terkena Banjir Bandang 

Ahmad Afif selaku panitia pertandingan sepak bola berujar, dia berada di atas atap ruang ganti ketika menerima telepon.

Baca: Presiden Jokowi Melayat Ibunda SBY di Cikeas, Siti Habibah Tutup Usia Pukul 19.21 WIB pada Jumat

Panggilan itu berasal dari desa tetangga yang memperingatkan bahwa banjir akan datang. Afif mengaku dia langsung berlari ke tempat aman menjauhi sungai.

"Kami melihat saudara, anak, maupun sepupu kami sekarat. Mereka berteriak dengan putus asa untuk meminta tolong. Namun tak ada yang bisa kami lakukan," katanya. (kps/skynews)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved