Film

Mau Miliki Kekuatan Gundala? Coba Gunakan Sedikit Listrik Tenaga Manusia Super Bakal Milik Kamu

Film Gundala yang sedang tayang di bioskop ramai diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia.

Mau Miliki Kekuatan Gundala? Coba Gunakan Sedikit Listrik Tenaga Manusia Super Bakal Milik Kamu
(Screenplay Films/Legacy Pictures)
Superhero Indonesia Gundala akan diputar di Toronto International Film Festival 2019 di Toronto, Kanada, pada September mendatang. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Film Gundala yang sedang tayang di bioskop ramai diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia.

Film yang diadaptasi dari komik berjudul Gundala Putra Petir menceritakan kisah Sancaka yang mendapat kekuatan super setelah tersambar petir. Dia pun menjadi superhero bernama Gundala.

Melihat kemampuan super Gundala, Anda mungkin merasa iri dan ingin punya kekuatan super.

Namun, jangan lantas sengaja menyetrumkan diri ke listrik atau berlari ke tengah lapangan saat badai petir.

Seperti yang dilansir dari Gizmodo.com, 26 Juli 2019; sedikit stimulasi listrik pada otot (electrical muscle stimulation atau EMS) ternyata bisa mempercepat gerak reflek manusia sehingga mirip manusia super.

Baca: Perolehan Kursi di DPR 2019 - 2024, PDIP Nomor 1 Golkar ke 2, Gerindra ke 4, Ada 6 Parpol Nol Kursi

Baca: Bacaan Doa Akhir dan Awal Tahun Sambut Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1441 Hijriyah

Baca: VIDEO Link Live Streaming Southampton Vs Man United Liga Inggris, Kickoff Sabtu (31/8) pukul 12.30

Baca: Ternyata 2 Artis Stand Up Comedy yang Ditangkap Polisi Sudah Konsumsi Sabu Selama 3 Bulan

Baca: BERLANGSUNG! Cara Live Streaming Bhayangkara FC vs Persebaya Liga 1 2019, Siaran Langsung Indosiar

Baca: Jadwal Puasa Muharram, Puasa Tasua dan Asyura Jelang Tahun Baru Islam 1 Muharram 1441 H

Rata-rata manusia dapat bereaksi terhadap rangsangan visual sekitar seperempat detik. Jadim ketika mata Anda melihat nyamuk berdengung di sekitar kepala, dibutuhkan waktu sekitar 250 milidetik untuk lengan Anda dapat mulai bergerak.

Pasalnya, otak Anda menghabiskan sebagian besar waktu itu, sekitar 200 milidetik, untuk bisa memproses apa yang dilihatnya, lalu memutuskan apa yang harus dilakukan dan mengirimkan sinyal agar tubuh bereaksi. Sementara 50 milidetik sisanya merupakan waktu yang dibutuhkan oleh otot manusia agar bereaksi ketika disuruh.

Kombinasi kedua proses tersebut mewakili waktu reaksi manusia, dan para peneliti di University of Chicago dan lab penelitian Sony CSL di Tokyo, Jepang, telah menemukan cara yang belum sempurna untuk memotong waktu reaksi awal tersebut.

Dalam beberapa percobaan sederhana yang dilakukan, seperti menangkap spidol yang jatuh, atau memotret objek berkecepatan tinggi gerakannya, yaitu bola bisbol yang ditembakkan oleh mesin; para peneliti menggunakan kombinasi sensor untuk mendeteksi apa yang terjadi dan menghubungkan stimulator otot listrik untuk mempercepat reaksi subjek.

Hasilnya, metode tersebut memang terbukti bisa meningkatkan kecepatan refleks subjek.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved