BPost Cetak

Nasib Perajin Ukiran Kayu Khas Kalteng, Haitami Terpaksa Ikut Menjual Bajakah

Haitami mengurangi kegiatan mengukir kayu yang telah puluhan tahun digeluti karena usia

Nasib Perajin Ukiran Kayu Khas Kalteng, Haitami Terpaksa Ikut Menjual Bajakah
BPost Cetak
Nasib Perajin Ukiran Kayu Khas Kalteng, Haitami Terpaksa Ikut Menjual Bajakah 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Haitami yang akrab dipanggil Amang Atai, begitu semangat diajak berbincang mengenai mengukir kayu. Warga Kelurahan Mentaya Seberang Kecamatan Seranau Kabupaten Kotawaringin Timur (kotim), Kalimantan Tengah, ini memang dikenal sebagai perajin ukiran khas Dayak.

Namun kini dia mengurangi kegiatan mengukir yang telah puluhan tahun digeluti karena usia. Haitami baru saja memasuki usia 66 tahun. Dia kelahiran Pangkalanbun 19 Agustus 1953.

Kendati demikian, ilmu memahat kayu untuk menghasilkan kerajinan khas Kalteng telah diturunkan kepada sejumlah putranya.

Di Kalteng, pembuat suvenir ukiran khas Kalteng terbilang langka. Tidak semua orang bisa memahat kayu hingga menjadi karya seni tradisional, apalagi bercirikan khas Kalteng yang terbilang unik.

Baca: Mengembangkan Obat Antikanker Berbasis Bajakah

Baca: Barito Putera Kedatangan Bek Asal Brasil, Ini Sosoknya

Baca: Kalsel Expo Dibuka, Paman Birin Harapkan Kedepan Gaungnya Bisa Lebih Mendunia

Baca: Berawal dari Clening Servis, Begini Perasaan Dede Sunandar Bergaul Selebritis Saetelah Sukses

Salah satu pelakunya adalah Haitami. Ternyata hasilnya, dia mampu menghidupi istri dan enam anak.

Ada pun produk kerajinannya antara lain patung sapundu, hewan dan ikan khas Kalteng, furniture atau perabotan rumah tangga lainnya. Ukiran antara lain dibuat dari kayu sungkai dan limbah kayu ulin.

Kerajinannya digemari banyak kalangan. Bahkan ada pembeli dari luar negeri.

“Ada yang memesan lewat internet. Banyak juga yang datang langsung ke tempat atau gudang pembuatan hasil kerajinan kami,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Sayangnya, menurut suami Zainah Wardani ini, perajin seperti dirinya kurang diberdayakan oleh pemerintah sehingga pemasarannya lambat berkembang.

“Saya sudah istirahat mengukir kayu. Anak saya yang melanjutkan usaha ini. Hingga saat ini kami kesulitan dalam pemasaran,” ujarnya.

Haitami berharap pemerintah daerah melibatkan perajin lokal seperti dirinya dalam pengadaan suvenir atau produk ukiran kayu lainnya seperti untuk furniture kantor atau lembaga lainnya. Dengan demikian mereka bisa bertahan dan berkembang.

Baca: Film Gundala Putra Petir Ramai Diserbu Penonton, Ini Hasil Riset Kenapa Manusia Suka Superhero

Baca: Sup Buntut Kindai Menu Andalan Windai Restaurant di Best Western Hotel Banjarmasin

Baca: Permintaan Maaf Menantu Ani Yudhoyono Saat Ibunda SBY Meninggal Dunia, Aliya Rajasa Ungkap Ini

Oleh karena sulit berkembang, Haitami mulai melirik usaha lain. Saat ini Haitami dan keluarga menjual kayu bajakah yang kini ramai dicari orang karena diperkirakan bisa mengobati kanker.

“Terpaksa saat ini kami juga ikut menjual kayu bajakah. Yang penting menghasilkan uang dan membantu orang yang sakit kanker dengan akar bajakah ini,” ujarnya. (banjarmasinpost.co.id/faturahman)

Penulis: Fathurahman
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved