Tajuk

Lagi Kabut Asap

Humas Angkasa Pura I Bandara Syamsudin Noor, Aditya Putra Patria mengatakan tidak terjadi penundaan pesawat karena asap. Jarak pandang masih normal.

Lagi Kabut Asap
banjarmasinpost.co.id/nurkholis huda
Kondisi Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru saat pagi hari, asap tipis mulai menyelimuti, diduga akibat kebakaran lahan di sekitar bandara. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - AWAL September 2019, kabut asap sempat menyelimuti Bandara Syamsudin Noor di Banjarbaru. Asap tipis itu, diduga akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebagaimana dirilis BPost, Senin (2/9/2019), kabut tersebut tak sempat menunda penerbangan.

Humas Angkasa Pura I Bandara Syamsudin Noor, Aditya Putra Patria mengatakan tidak terjadi penundaan pesawat karena asap. Jarak pandang masih normal, lebih dari 10 kilometer. Memang, asap yang timbul akibat karhutla, yang akhir-akhir ini makin menjadi.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kalsel, Wahyuddin mengakui kebakaran makin meluas. Tercatat, sejak Januari hingga 31 Agustus 2019, di wilayah Banjarbaru yang terbakar mencapai 213, 67 hektare.

Dalam beberapa bulan terakhir, sebagian kepulauan Kalimantan terjadi krisis air atau kekeringan. Juga karhutla yang cukup hebat, baik akibat faktor alam atau karena sengaja dibakar oleh oknum yang akan membuka lahan baru.

Ihwal kabut asap pada awal September 2019, yang menyelimuti Bandara Syamsudin Noor di Banjarbaru, meski tidak menghalangi penerbangan saat itu, tetap menjadi isyarat bahwa kekeringan terjadi di kawasan hutan dan lahan.

Titik panas di Kalimantan Selatan, terus meningkat. Daerah yang banyak titik panasnya, Kabupaten Banjar, Tanahlaut, Kotabaru dan Kabupaten Tapin. Mewaspadai kekeringan di musim seperti sekarang, perlu kehati-hatian terhadap kebakaran lahan dan hutan.

Titik rawan karhutla lainnya, antara lain Kabupaten Banjar, Baritokuala, Tanahlaut dan Kabupaten Tapin. Sementara Dinas Kehutanan Kalsel, berupaya mengamankan kawasan hutan lindung dari kebakaran.

Mengenai kabut asap yang hampir melanda di sejumlah wilayah Indonesia, sepertinya menjadi bencana tahunan, sehingga terus dan terus terjadi di sejumlah kepulauan yang didominasi hutan dan lahan tropis.

Pembakaran hutan dan lahan oleh oknum hingga eksploitasi alam lainnya, tak pernah luput dari agenda para perusak lingkungan. Padahal, menjaga kelestarian alam dianjurkan demi keseimbangan dan mencegah kerusakan lingkungan.

Lingkungan hidup sebagai suatu ekosistem, komponennya bekerja secara teratur sebagai satu kesatuan, terdiri atas unsur biotik (manusia, hewan dan tumbuhan) abiotik (udara, air, tanah, iklim dan lainnya).

Jika terlalu berlebihan mengeksploitasi alam, tidak mustahil berdampak pada kerusakan ekosistem yang bekerja secara teratur tadi. Dapat dibayangkan, di musim kemarau seperti sekarang, kebakaran senantiasa mengintai dan krisis air terjadi di mana-mana.

Kondisi demikian, akan dan berdampak buruk pada pengolahan air bersih, distribusi kepada para pelanggan dan persoalan teknis lainnya. Kabut asap dan krisis air, berdampak luas pada kesehatan masyarakat.

Yang lebih memprihatinkan, eksploitasi alam dan membakar lahan atau hutan ini, menyebabkan kabut asap, sehingga menggangu kesehatan pernafasan masyarakat yang banyak beraktivitas di luar rumah. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved