Berita Tanahbumbu

Tiga Kecamatan Penyumbang Karhutla di Tanbu, Dalam Tujuh Bulan 225 Hektare Lebih Lahan Terbakar

Status siaga akan berakhir pada Nopember mendatang, karena karhutla berpotensi dan masih rawan terjadi khususnya di tujuh kecamatan.

Tiga Kecamatan Penyumbang Karhutla di Tanbu, Dalam Tujuh Bulan 225 Hektare Lebih Lahan Terbakar
banjarmasinpost.co.id/helriansyah
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Tanahbumbu Erwin Novikar 

BANJARMASINPOST.CO.ID,BATULICIN - Kabupaten Tanahbumbu masih menetapkan status siaga kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Status siaga akan berakhir pada Nopember mendatang, karena karhutla berpotensi dan masih rawan terjadi khususnya di tujuh kecamatan.

Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanahbumbu, dari Februari sampai dengan September 2019 ini sudah tercatat seluas 225,2 hektare lahan terbakar.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Tanahbumbu, Erwin Novikar S.Kom mengatakan, total 225,2 hektare lahan terbakar tersebar di tujuh kecamatan.

Antara lain Kecamatan Kusan Hilir, Satui, Kusan Hulu, Batulicin, Simpang Empat, Karang Bintang, dan Mentewe. Namun, dari tujuh kecamatan itu, jelas Erwin, tiga kecamatan yang intensitas kebakarannya cukup tinggi.

Baca: 38 Kasus Karhutla Diselidiki Polres Banjar, BMKG Sebut Titik Api Meningkat Menjadi 214

Baca: Heli Patroli Pabrikan Amerika Pemantau Karhutla ini Dipuji Tim staf Ahli Perda Karhutla DPRD kalsel

Adalah kecamatan Kusan Hilir, Batulicin dan Satui. Disusul Karang Bintang dan Mentewe. "Kalau Mentewe intensitasnya kecil, tetapi sekali terbakar luar karena medan yang sulit dijangkau. Beda dengan Satui intensitas tinggi, karena di pinggir jalan," jelas Erwin kepada banjarmasinpost.co.id.

Namun dari ratusan haktare lahan terbakar. Kebanyakan adalah semak belukar, hanya sebagian kecil kawasan hutan.

Sebelumnya menurut Erwin, penetepan daerah rawan bencana karhutla oleh Pemerintah Kabupaten Tanahbumbu, bermuara dari peringatan yang dikeluarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Peringatan dikeluarkan BMKG berhubungan puncak kemarau dimulai dari Juli hingga September.

"Berdasarkan itu baru kita melakukan penetapan status siaga darurat karhutla melalui SK Bupati yang ditanda tangani per 31 Juli, ditetapkan 1 Agustus sampai tiga bulan (Agustus sampai Oktober)," tandasnya.

BANJARMASINPOST.co.id/helriansyah

Penulis: Herliansyah
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved