Tajuk

Antisipasi Itu Penting

Dampak musim kemarau kian dirasakan masyarakat Kalimantan Selatan. Cuaca panas di siang hari dan dingin menusuk tulang di malam hari.

Antisipasi Itu Penting
Foto ACT News
Pemerintah memprediksi musim kemarau tahun ini bakal mengakibatkan 48.491.666 jiwa terancam kekeringan di 28 provinsi 

BANJARMASINPOSTCO.ID - Dampak musim kemarau kian dirasakan masyarakat Kalimantan Selatan. Cuaca panas di siang hari dan dingin menusuk tulang di malam hari.

Bukan itu saja, pagi hari di sejumlah wilayah di Kalimatan Selatan juga diselimuti kabut, meskipun belum terlalu mengganggu pandangan.

Belum lagi sering kali terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) membuat kualitas udara menurun. Selain dampak karhutla adalah membuat kualitas udara memburuk, ujung-ujungnya bisa berdampak pada gangguan kesehatan dan menyebabkan inspeksi saluran pernapasan akut (ISPA) jika sudah masif dan meluas.

Hal lain saat kemarau yang kerap terjadi di Kalimantan Selatan, terutama di Kota Banjarmasin adalah kebakaran permukiman. Selama Agustus hingga awal September 2019 ini saja, sudah puluhan kejadian kebakaran di Banjarmasin mulai yang berskala kecil hingga besar. Jumlah itu belum termasuk kejadian kebakaran di kabupaten dan kota lain di Kalsel serta kejadian Karhutla.

Dampak lainnya dari kemarau di provinsi ini adalah krisis air bersih. Kemarau apalagi kemarau panjang jelas membawa pengaruh pada jumlah air bersih yang bisa dikonsumsi masyarakat. Apalagi di kawasan yang belum terjangkau layanan air bersih dari perusahaan daerah air minum (PDAM), pasokan air bersih sangat tergantung pada air sumur dan hujan.

Puncak krisis air bersih ini akan terjadi pada saat sungai-sungai yang menjadi sumber pengolaha air bersih mengalami kekeringan. Sementara krisis air bersih juga bakal dialami masyarakat Kota Banjarmasin pada saat intrusi air laut jauh masuk ke Sungai Martapura hingga mendekati Sungaitabuk, sumber utama air bersih ibu kota Kalsel dan sekitarnya.

Lantas, apakah tidak ada solusi jika kemarau sudah sedemikian menyulitkan bagi masyarakat?

Meminjam kata bijak dari ilmuwan jenius Steven Hawking, sesulit apapun hidup, selalu ada jalan untuk meraih kesuksesan. Asalkan manusia mau berusaha sekuat tenaga.

Harusnya, baik pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi, memilik grand design untuk penanggulangan bencana musiman. Program-program penanggulangan bencana kabupaten dan kota saling kait mengkait hingga penanganan bencana bisa dikordinasikan dengan cepat dan tepat.

Namun, yang lebih penting adalah langkah antisipasi sebelum bencana datang. Misalnya, sebelum terjadi krisis air bersih pemerintah membangun embung-embung di semua wilayah, terutama yang sering terjadi kiris. Tujuannya untuk persedian air yang diprediksi cukup menghadapi kemarau panjang.

Contoh lain yang belum tertanggulangi secara baik adalah langkah antisipasi mengurangi bahaya kebakaran permukiman. Rasanya belum ada pemeriksaan atau bantuan pengecekan ke rumah-rumah terkait instalasi listrik. Rumah rata-rata kayu ditambah usia jaringan kabel listrik di rumah-rumah puluhan tahun tentu menambah risiko kebakaran.

Penanganan karhutla adalah contoh mitigasi bencana yang sudah berjalan cukup baik sehingga dampak karhutla tak sebesar dulu. Langkah prepentif atau antisipasi sudah dilakukan hingga membantu dalam penanganan saat kejadian. Harusnya bukan cuma Karhutla yang dibikin protap seperti itu. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved