Berita HSS

Sering Jadi Korban Pedagangan Manusia, Perempuan di HSS Diingatkan Kenali Modusnya

Kaum perempuan dan anak-anak, sering menjadi korban pedagangan manusia atau human trafiking.

Sering Jadi Korban Pedagangan Manusia, Perempuan di HSS Diingatkan Kenali Modusnya
Protokol dan Kehumasan Pemkab HSS
Kegiatan Penguatan Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang, di Hotel Qianna Inn, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Selasa (10/9/2019). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Kaum perempuan dan anak-anak, sering menjadi korban pedagangan manusia atau human trafiking.

Berdasarkan data selama tiga tahun berturut-turut, menunjukkan kecenderungan tersebut. Untuk itu para perempuan dan para orang tua diingatkan agar mengenali modus-modusnya, agar tak sampai menjadi korban.

 “Dalam perdagangan modus yang paling banyak dan kasusnya paling tinggi adalah pengiriman tenaga kerja ke luar negeri atau pekerja migran. Sedangkan modus kedua adalah eksploitasi seksual, baik dipekerjakan sebagai PSK secara terbuka, maupun dipekerjakan di industri hiburan seperti dicafe, daerah wisata, hingga spa yang ada di kota besar,”kata  Kepala Bidang Penanganan Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Ciput Eka Purwianti.

 Ciput membeberkan hal tersebut Selasa (10/9/2019) pada Penguatan Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang, di Hotel Qianna Inn, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Baca: Hasil Akhir Timnas Indonesia Vs Thailand Kualifikasi Piala Dunia : Skor Akhir 0-3, Gagal Dapat Poin

Baca: Terdampak Event Nasional, Okupansi Hotel di Banjarmasin Meningkat Hingga 90 Persen

Baca: Kim Kardashian Dinyatakan Positif Idap Lupus, Simak Penyebab dan Gejala Penyakit Lupus

Baca: Kembangbiakan 1.000 Anak Sapi, Pengurus Baznas Kalsel Tinjau 6 Hektare Lahan di Kurnia

Kegiatan tersebut diselenggarakan DInas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan ANak Kalsel, bekerjasaman dengan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan  Perempuan dan Perlindungan Anak.

 Kegiatan dibuka Wakil Bupati HSS, Syamsuri Arsyad dan dihadiri pula perwakilan Forkopimda HSS, SKPD terkait serta instansi vertikal. 

Disebutkan, pada tahun 2018 lalu, 70 persen korban perdagangan orang adalah perempuan dan anak. Pelakunya, paling banyak dari keluarga terdekat korban. Prinsip tindak pidana tersebut, adalah migrasi untuk bekerja.

 “Jadi  tawarannya melalui pekerjaan. Proses penawaran pekerjaan biasanya tidak diberikan secara jujur. Baik jenis pekerjaan, dan deskripsi pekerjaan yang bagaimana. Jadi ada penipuan di dalamnya,” tambah Ciput Eka.

Disebutkan, ada tiga unsur yang harus terpenuhi untuk menilai seseorang itu menjadi korban perdagangan orang atau tidak.

 Modusnya ada perekrutan, kemudian penampungan, dan pemindahan. Dalam penampungan, kemungkinan ada pelatihan terlebih dahulu maupun diperbaiki penampilannya terlebih dahulu.

Halaman
12
Penulis: Hanani
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved