Tajuk

Bulu Tangkis Milik Kita

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menuding PB Djarum mengeksploitasi anak lewat audisi bulu tangkis demi promosi merek dagangnya.

Bulu Tangkis Milik Kita
banjarmasinpost.co.id/nana
Kartika Mayasari (kanan) mendapat super tiket saat mengikuti Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis Djarum, di GOR Berkat Abadi, April 2017 lalu. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - “SMASH” yang dilancar Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) luar biasa dampaknya. Jika tidak disikapi secara serius dan bijaksana, bisa memupuskan pengorbanan insan pebulu tangkis Indonesia, bahkan bisa mematikan talenta-talenta pebulu tangkis Indonesia.

Di saat insan pebulu tangkis giat mengobarkan semangat juara dan berjuang membangkitkan kembali prestasi bulu tangkis yang tengah meredup, Djarum Foundation mengambil keputusan mengejutkan, yakni akan menghentikan event Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis PB Djarum 2020 nanti.

Keputusan penghentian Audisi Umum Beasiswa PB Djarum yang digelar sejak 2006 itu merupakan buntut polemik yang mencuat beberapa waktu lalu. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menuding PB Djarum mengeksploitasi anak lewat audisi bulu tangkis demi promosi merek dagangnya.

Tudingan KPAI ini punya dasar yang kuat, yakni perundang-undangan, yakni UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan PP No 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan.

Pada Pasal 47 menyatakan setiap penyelenggara kegiatan yang disponsori produk tembakau dan/atau bertujuan untuk mempromosikan produk tembakau dilarang mengikutsertakan anak di bawah usia 18 tahun.

Memang sejatinya, Undang Undang yang harus diutamakan. Tapi dalam masalah ini pihak berkonflik, PB Djarum dan KPAI, bisa membijaksanainya. Artinya pihak berkonflik harus duduk satu meja menyesalkannya. Dengan suasanya keakraban dan kepala dingin bersama mencari solusi atas polemik yang terjadi.

Dalam hal dunia perbulutangkisan, kita tidak bisa menampikkan peran PB Djarum. Banyak pebulu tangkis bersinar di tingkat dunia lahir dari hasil gembelengan PB Djarum. Dalam satu dekade terakhir ini setidaknya ada lima pebulu tangkis jebolan PB Djarum yang bersinar, Kevin Sanjaya, Mohammad Ahsan, Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir dan Debby Susanto.

Sangatlah naif bila kita tutup mata dengan pretasi itu. Karena itu lah dalam menyelesaikan masalah ini kedua pihak harus saling meninggalkan egonya. Hindari sikap ingin menang sendiri. Dan terpenting, utamakan kejujuran. Buat apa menang, tapi yang lain hancur.

Kemungkinan, setidaknya ada dua pihak yang dirugikan. Pertama, republik ini akan mengalami krisis permain bulu tangkis terbaik. Selama ini, event Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis PB Djarum menjadi salah satu tumpuan terbesar bagi Indonesia dalam menjaring pebulu tangkis berbakat dari seluruh wilayah Indonesia.

Sedangkan bagi pebulu tangkis, semangat juangnya bisa kendor. Maklum saja untuk menjadi seorang pebulu tangkis terbaik membutuhkan dana yang sangat besar. Sangat sedikit orang yang mau atau mampu mengeluarkan uang dari kocek pribadinya. Salah satu caranya yang paling ‘hemat’ adalah event Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis PB Djarum.

Melihat dari dua kerugian yang akan terjadi, kita sangat mengharapkan event Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis PB Djarum tidak dihentikan. Selamatkan bulu tangkis Indonesia. Bulu tangkis milik kita. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved