Tajuk

Mewarisi Kebajikan BJ Habibie

INDONESIA berduka lagi. Satu di antara putra terbaiknya, Prof Dr Ing H Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng, meninggal dunia

Mewarisi Kebajikan BJ Habibie
Tangkapan layar Youtube The Habiebie Center.
BJ Habibie dilarikan ke rumah sakit kemarin, Minggu (8/9/2019). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - INDONESIA berduka lagi. Satu di antara putra terbaiknya, Prof Dr Ing H Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng, meninggal dunia. Sang presiden ketiga menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (11/9), pukul 18.05 WIB.

Putra Parepare, Sulawesi Selatan itu telah menjadi bagian penting dari perjalan demokrasi Indonesia. Ia harus mengawal perubahan, setelah menerima amanah menggantikan Soeharto, yang lengser pada 21 Mei 1998.

Beban putra kelahiran 25 Juni 1936 itu tentu tidak ringan. Ia harus menjadi bapak harapan perubahan yang diinginkan sebagian besar (untuk tidak menyebut semua) rakyat Indonesia.

Saat itu, BJ Habibie harus ‘membalik’ Indonesia dari yang totaliter menjadi (minimal seakan-akan) demokratis. Dalam waktu kurang dari dua tahun harus menyiapkan Pemilu (termasuk Undang-undangnya). Bersama DPR harus mengesahkan UU Pokok Pers yang demokratis, menyiapkan Undang-undang larangan praktik monopoli dan persaingan tidak sehat, UU Perlindungan Konsumen.

Selain itu, masih ada sejumlah produk hukum di berbagai bidang, hingga total mencapai 69 Undang-undang. Bandingkan dengan DPR bersama pemerintah yang selama 2014-2019, hanya mengesahkan 77 Undang-undang.

Selain menyiapkan landasan bagi Indonesia pasca-Soeharto, dalam waktu kurang dari dua tahun, Habibie harus mengembalikan situasi politik, ekonomi dan sosial yang compang camping. Tercatat, pemerintahannya mampu menekan pelemahan rupiah hingga kurang dari 10 ribu per US Dolar.

Selain kisah suksesnya, Habibie di masa pemerintahannya masih menyisakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan penerusnya. Termasuk sang pelanjutnya hingga hari ini, yang masih harus melawan hantu bernama; Disintegrasi.

Tentu, jejak Habibie tersebut sangatlah bermakna bagi bangsa. Selain patut kita kenang, ada satu di antara banyak pelajaran yang bisa ditauladani semua anak bangsa hingga nanti. Yakni kedewasaanya dalam berbangsa dan bernegara.

Setidaknya, sikap dewasa itu bisa kita saksikan saat pertanggungjawabannya ditolak MPR pada sidang umum tahun 1999. Buntutnya, Habibie tak lagi bisa berkompetisi menjadi Capres 1999.

Saat itu, ia legowo menerima keputusan MPR. Tidak ada kekecewaan yang terlampiaskan, baik melalui partainya (Golkar) atau melalui kelompok-kelompok massa yang bisa saja digerakkannya.

Habibie pun tidak menyalahkan siapapun dan tidak menuduh siapapun. Ia melangkah pulang dengan kepala tegak. Dan kemudian menduduki singgasana bapak bangsa di kediamannya Patra Kuningan, Jakarta.

Toh dengan begitu, ia tidak kehilangan ketokohannya. Tidak melenyapkan kewibaannya. Tidak mengurangi kehormatannya. Bahkan, selama 20 tahun (sejak 1999 hingga ia meninggal), anak bangsa terus mengalir ke rumahnya memberi hormat dan meminta ‘berkah’ kebajikannya.

Selamat jalan, Pak Habibie. Kami akan mewarisi kebajikanmu. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved