Berita Tanahbumbu

NEWSVIDEO : Melihat Usaha Pencacahan Limbah Sampah Plastik di Kecamatan Batulicin

Di antara tumpukan sampah plastik menumpuk di sebuah gudang itu terjadi perputaran uang yang bernilai fantastis.

BANJARMASINPOST.CO.ID, BATULICIN - Sekilas terlihat hanyalah timbunan limbah sampah yang menggunung. Namun siapa tahu, di antara tumpukan sampah plastik menumpuk di sebuah gudang itu terjadi perputaran uang yang bernilai fantastis.

Bisa dibayangkan limbah sebelumnya berupa sampah plastik dari semua jenis, menjadi barang bernilai ekonomis setelah diolah melalui proses pengepresan dan pencacahan hingga menjadi barang setengah jadi.

Pengolahan limbah sampah dikelola perseorangan dengan nama Limbah Guna Banua, sedikitnya dalam satu bulan mengirim bahan baku diolah setengah jadi sebanyak 20 ton ke Pulau Jawa.

Usaha pengepresan, pencacahan oleh Limbah Guna Banua yang dikelola Fikri Alfian (31) sosok muda penginspiratif, itu pun sudah berlangsung cukup lama lebih kurang 1,5 tahun.

Baca: Geledah Rumah di Jalan Mutiara Banjarmasin, Polisi Temukan 12 Gram Sabu di Kamar

Baca: Lima Bulan Dicari, Akhirnya Buronan 2 Kilogram Sabu Dibekuk, Begini Tampangnya

Baca: Breaking News : Lagi, Kebakaran Terjadi di Kawasan Gunung Sari Ujung Banjarmasin

Baca: NEWSVIDEO : Jamu Persis Solo di Stadion Demang Lehman, Martapura FC Unggul Dengan Skor Tipis 2-1

Kini usaha untuk membantu pemerintah dalam penanggulangan persoalan sampah di wilayah Kabupaten Tanahbumbu. Mempercepat proses pengolahan sampah, menjadi bahan baku setengah jadi Limba Guna Banua dikelola Kiki, panggilan akrab Fikti Alfian sudah memperkerjakan 23 orang tenaga.

"Enam orang karyawan tetap, sisanya tenaga harian. Untuk karyawan tetap gaji rata-rata Rp 2 juta perbulan," tutur Kiki kepada BPost saat ditemui di gudang pengolahan di Desa Maju Bersama, Kecamatan Batulicin, Jumat (13/9/2019) kemarin.

Kiki mengakui, usaha pengolahan sampah menjadi bahan baku setengah jadi bukan mencari profit atau keuntungan. Namun bertujuan membuka lapangan kerja, terlebih kepala keluarga dan ibu rumah tangga yang selama ini turut diperkerjakan.

"17 orang ibu rumah tangga, mereka membersihkan dengan umpah Rp 70 ribu perhari. Bersih pendapatan mereka antara Rp 2 jutaan. Belum lagi sampah yang mereka jual sendiri," katanya.

Namun yang memotivasinya mendirikan usaha pengolahan sampah, selain mendukung program pemerintah. Juga karena rasa empati terhadap kebersihan lingkungan.

"Pada awalnya aku berjalan sambil membawa karung, sambil memungut sampah-sampah plastik setiap ditemui di jalan. Setelah terkumpul, dan aku berpikir. Ketika sampah di jalan, Lihatlah itu uang bukan sampah," ujar Kiki.

Halaman
12
Penulis: Herliansyah
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved