Dibalik Kisah Pulau Burung Tanahbumbu

Pulau Burung Tanahbumbu, Berawal dari Kisah Rakyat Tentang Sepasang Ular yang Mati

Dulu pada zaman Kolonial Belanda. Sebuah pulau berada di tengah laut yang sekarang masuk wilayah administrasi Kecamatan Simpang Empat

Pulau Burung Tanahbumbu, Berawal dari Kisah Rakyat Tentang Sepasang Ular yang Mati
banjarmasinpost.co.id/man hidayat
Keindahan ojek wisata Desa Pulau Burung di Kabupaten Tanahbumbu. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BATULICIN - Dulu pada zaman Kolonial Belanda. Sebuah pulau berada di tengah laut yang sekarang masuk wilayah administrasi Kecamatan Simpang Empat dengan nama Desa Pulau Panjang. Dulunya, pulau tersebut bernama Pulau Burung.

Pada tahun 1993, Pulau Burung dijabat oleh seorang dengan sebutan Kapala Kampung. Seiring waktu, Pulau Burung berubah menjadi RT 16, status itu setelah Pulau Burung menginduk dengan Desa Tungkaran Pangeran.

Pulau Burung dihuni pertama kali oleh para pelaut dari Sulawesi (suku Bugis). Tinggal menetap di pulau itu, karena pasokan air bersih yang tersedia cukup dan kondisi alamnya sangat strategis.

Kepala Kampung yang pertama kali adalah Cide. Setelah berakhir masa jabataan Cide, Kepala Kampung dijabat Ambo Dalle pada tahun 1945-1955.

Kemudian 1955-1965 Kepala Kampung dijabat oleh Hasan, dan pada tahun 1965–1975 Kepala Kampung dijabat H Duhani.

Baca: RESMI! Irjen Firli Jadi Ketua KPK, Inilah Profil 5 Pimpinan KPK Terpilih Periode 2019-2023

Baca: Alasan Thareq Kemal Putra Almarhum BJ Habibie Pakai Penutup Mata Bak Nick Fury Avengers Terungkap

Baca: BREAKING NEWS - Polisi Bekuk Pencuri Uang Nasabah di Palangkaraya, Sempat Ditransfer ke Palembang

Berakhirnya masa jabatan H Duhani selaku Kepala Kampung. Kampung Pulau Burung berubah status menjadi Desa Pulau Burung dan sebagai Kepala Desa adalah H Maming pada tahun 1975–1983.

Pada 1983–1993 Desa Pulau Burung dijabat Kepala Desa H Alimuddin. Pada tahun 1993 berdasarkan SK Gubernur Kalimantan Selatan tentang recroping (penciutan) beberapa desa salah satunya adalah Desa Pulau Burung.

Pada tahun 2007 Bupati Tanbu Zairullah Azhar, MSc melantik Kepala Desa Hajjah Harmawati. Selang beberapa bulan kemudian berdasarkan SK Bupati Tanah Bumbu No 336/2007 Pulau Burung kembali menjadi desa, namun berganti nama menjadi Desa Pulau Panjang dengan pejabat Kepala Desa H Alimudin (2007-2012).

Kemudian diteruskan oleh Syafrudin H Maming. Di karenakan Pejabat Kepala Desa Safrudin H Maming maju mencalonkan diri sebagai calon anggota DPRD Provinsi Kalsel, jabatan Kepala Desa kemudian dijabat Saidina S.Pd (2013-2016).

Selanjutnya Saidina S.Pd maju mencalonkan diri sebagai calon Kepala Desa Pulau Panjang. Karena diharuskan mengundurkan diri, maka pejabat Desa Pulau Panjang dijabat Bapak Sariyadi, S.AP berdasarkan SK Bupati No 188.46/475 Kecamatan Simpang Empat /2016 ( 26 Agustus – 25 Februari 2017) . Sampai terpilih dan dilantiknya Kepala desa yang baru Saidina ,S.Pd periode 2017-2022.

Singkat cerita, menurut keterangan Saidina, Kepala Desa Pulau Panjang dulunya bernama Pulau Burung, menyimpan histori.

Menurut cerita rakyat, ujar Saidina, Pulau Burung terbentuk menjadi sebuah pulau berawal dari cerita seekor ular yang hanyut dari sungai Batulicin.

Ular tersebut kemudian terdampar digusung, hingga lama-kelamaan ular itu pun mati. Banyak burung yang hinggap di ular tersebut dan mengeluarkan kotoran hingga akhirnya tumbuhlah beberapa macam pepohonan dari endapan kotoran burung hingga terbentuklah suatu pulau yang dinamakan Pulau Burung.

(BANJARMASINPOST.co.id/helriansyah)

Penulis: Herliansyah
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved