BPost Cetak

Fikri Berdayakan Ibu Rumah Tangga Pilah Sampah, Gaji Perbulan Rp 2 Juta

Timbunan sampah di Desa Maju Bersama Tanahbumbu kini menjadi barang yang bernilai ekonomis

Fikri Berdayakan Ibu Rumah Tangga Pilah Sampah, Gaji Perbulan Rp 2 Juta
Capture Youtube BPost
Fikri Alfian (31) mengelola pencacahan Limbah Guna Banua 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Berawal dari keprihatinan melihat sampah berserakan, kini timbunan limbah yang menggunung di sebuah gudang di Desa Maju Bersama, Tanahbumbu, disulap menjadi bernilai ekonomis dan perputaran uangnya bernilai fantastis.

Bisa dibayangkan limbah sebelumnya berupa sampah plastik dari semua jenis, menjadi barang bernilai ekonomis setelah diolah melalui proses pengepresan dan pencacahan hingga menjadi barang setengah jadi.

Pengolahan limbah sampah ini dikelola perseorangan dengan nama Limbah Guna Banua dan dalam satu bulan bahan baku diolah yang setengah jadi tersebut dikirim sebanyak 20 ton ke Jawa.

Adalah Fikri Alfian (31), sosok muda di balik usaha yang sudah berlangsung lebih kurang 1,5 tahun ini.

Baca: Bukan Marcella Simon, Sindiran Pelakor Pasangan Cut Meyriska dan Roger Danuarta untuk Wanita ini

Baca: Kabut Asap Semakin Pekat, Hujan Buatan Belum Bisa Dilakukan

Baca: Polemik Revisi UU KPK, Jokowi Tak Setuju Penyadapan Harus Izin External

Baca: Agus Cs Kembalikan Mandat ke Presiden, Saut Mundur Setelah DPR Pilih Pimpinan KPK

Selain motif ekonomi, kini usaha yang juga membantu pemerintah dalam penanggulangan persoalan sampah di wilayah Kabupaten Tanahbumbu memperkerjakan 23 orang tenaga.

“Enam orang karyawan tetap, sisanya tenaga harian. Untuk karyawan tetap gaji rata-rata Rp 2 juta per bulan,” tutur Kiki saat ditemui di gudang pengolahan di Desa Maju Bersama, Kecamatan Batulicin, Jumat (13/9) kemarin.

Kiki mengakui, usaha pengolahan sampah menjadi bahan baku setengah jadi bukan mencari profit atau keuntungan. Namun bertujuan membuka lapangan kerja, terlebih kepala keluarga dan ibu rumah tangga yang selama ini turut diperkerjakan.

“Ada 17 orang ibu rumah tangga, mereka membersihkan dengan umpah Rp 70 ribu per hari. Bersih pendapatan mereka antara Rp 2 jutaan. Belum lagi sampah yang mereka jual sendiri,” katanya.

Namun yang memotivasinya mendirikan usaha pengolahan sampah, selain mendukung program pemerintah. Juga karena rasa empati terhadap kebersihan lingkungan.

“Pada awalnya aku berjalan sambil membawa karung, sambil memungut sampah-sampah plastik setiap ditemui di jalan. Setelah terkumpul, dan aku berpikir. Ketika sampah di jalan, Lihatlah itu uang bukan sampah,” ujar Kiki.

Halaman
12
Penulis: Herliansyah
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved