Berita Kabupaten Banjar

Air Waduk Riam Kanan Makin Surut, Siring Jadi Areal Parkir Mobil hingga Muat 100 Mobil

Riam Kanan sudah tak asing lagi. Di tempat ini ada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ir Pangeran Mochamad Noor atau yang lebih popular

Air Waduk Riam Kanan Makin Surut, Siring Jadi Areal Parkir Mobil hingga Muat 100 Mobil
Banjarmasinpost.co.id/Nia kurniawan
Waduk Riam kanan surut areal kosong jadi lahan parkir muat puluhan mobil. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Riam Kanan sudah tak asing lagi. Di tempat ini ada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ir Pangeran Mochamad Noor atau yang lebih popular dengan nama Waduk Riam Kanan.

Terpantau dari pelabuhan kelotok yang berada di Jalan Ir Pangeran Mochamad Noor, Desa Tiwingan Baru, Kecamatan Aranio, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan kondisi permukaan waduk sudah surut.

Kemarau berdampak pada berkurangnya debit air Waduk Riam Kanan. Kelotok –perahu bermotor- yang menjadi moda transportasi utama warga beberapa desa, tertambat lebih jauh dari biasanya di bibir Pelabuhan Desa Tiwingan Lama.

Surut debit air waduk, menyuguhkan pemandangan lain. Tiang- tiang penyangga seolah mengangkat teras rumah warga lebih tinggi. Coklat keemasan warna tanah, menjadi garis pembatas yang semula tak terlihat antara air dan daratan.

Baca: BREAKING NEWS- Kepergok! Pelaku Mau Bakar Lahan di Banjarbaru Lari Kocar-kacir, Satgas Amankan Motor

Baca: Bocah 13 Tahun Buat Pengekuan Telah Diperkosa, Buruh Bangunan Ini Dibekuk Polisi di Rumahnya

Baca: AKBP Sugeng Riyadi Jadi Dir Reskrimum Polda Kalimantan Selatan, Sejumlah Kapolres Pun Ikut Bergeser

" Area yang surut di tepian jadi lahan kosong , jadi dimanfaatkan untuk area parkir mobil. Minggu hari ini ada sekitar 60 mobil yang parkir. Bahkan bisa muat 100 mobil," ucap warga Tiwingan lama, Suryani kepada reporter banjarmasinpost.co.id, Minggu (15/9).

Untuk kendaraan motor parkir inap Rp 10 ribu yang harus dibayar wisatawan. Sementara mobil bila inap Rp 50, ribu. Setidaknya dengan adanya lahan kosong karena air waduk surut makin menambah areal parkir jadi lebih luas. Puluhan mobil terparkir dengan rapi.

Danau ini bukanlah danau yang terbentuk secara alami, tetapi buatan. Konon, dulu danau ini adalah desa yang sengaja ditenggelamkan demi membuat waduk tersebut.

Menurut sejarahnya, proses pembuatan danau dan waduk ini dimulai pada 1958 silam, diprakarsai oleh Ir Pangeran Mochamad Noor yang merupakan Gubernur pertama Kalimantan Selatan dan mantan Menteri Pekerjaan Umum di era pemerintahan Presiden Soekarno.

Waduk tersebut diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1973. Menurut seorang motoris kelotok setempat, Hasbi, dulu ada dua desa yang ditenggelamkan tersebut.

Awalnya, di kecamatan ini ada dua desa tersebut. Karena ditenggelamkan, akhirnya penduduknya menyebar dan terpecahlah dua desa itu menjadi 13 desa yang ada sekarang mengelilingi danau tersebut.

Di antaranya ada Desa Tiwingan Lama, Tiwingan Baru, Liang Toman, Kalaan, Banua Riam, Bunglai, Bukit Batas, Apuai, Rantau Bujur, Balangian dan lain-lain.

(banjarmasinpost.co.id/niakurniawan)

Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved