Tajuk

Manajemen Pascabencana

Setiap hari, unit pemadam kebakaran swasta hilir mudik di jalan memberikan bantuan, entah karena ada kebakaran di permukiman atau lahan.

Manajemen Pascabencana
banjarmasinpost.co.id/rahmadhani
Kebakaran di Kantor Pos Besar Banjarmasin, relawan BPK berusaha menjangkau titip api di bagian atap kantor. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - BENCANA kebakaran menjadi kejadian rutin di Kota Banjarmasin. Setiap hari, unit pemadam kebakaran swasta hilir mudik di jalan memberikan bantuan, entah karena ada kebakaran di permukiman atau lahan.

Kemarau panjang yang melanda telah membuat bencana kebakaran menjadi momok bagi warga Provinsi Kalimantan Selatan. Khusus di Banjarmasin, tercatat sudah belasan kali terjadi kebakaran di permukiman warga.

Salah satu musibah terbesar yang menarik perhatian warga adalah bencana kebakaran yang terjadi di RT 04 dan RT 05 Kelurahan Alalak Selatan, pada 10 September 2019 lalu. Sekitar 74 kepala keluarga yang mendiami 64 rumah terdampak.

Padahal sebelumnya, 21 Agustus 2019 musibah serupa juga terjadi di sekitar lokasi tersebut, di RT 05 dan RT 06. Sekitar 17 rumah hangus dan membuat 24 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal.

Sejak kebakaran pertama, bantuan pun telah dikumpulkan dan dialirkan oleh berbagai pihak. Namun, permasalahan muncul pascamusibah kebakaran kedua. Korban kebakaran mengeluh tak bisa memasak akibat bantuan kompor yang dijanjikan tak juga kunjung tiba.

Padahal bantuan kompor tersebut sangat diperlukan korban kebakaran untuk memasak makanan bagi keluarga mereka, setelah dapur umur yang dibangun sudah terlanjur ditutup.

Korban kebakaran menagih janji bantuan kompor tersebut, karena sebelumnya Wali Kota Banjarmasin telah secara simbolis menyerahkannya kepada perwakilan warga. Tapi, kelanjutan bantuan tersebut belum juga diterima.

Seperti diberitakan Banjarmasin Post edisi Selasa (17/9), Wakil Wali Kota Banjarmasin, Hermansyah, menyatakan jumlah paket yang siap dibagikan sebanyak 20 kompor gas, dari 64 paket yang direncanakan.

Namun, karena jumlahnya belum lengkap, menunggu 44 paket yang belum tersedia. Pasalnya, habisnya APBD murni 2019 menyebabkan dana untuk menyediakan paket kompor tersebut terkendala.

Alasannya, habisnya APBD 2019 tersebut karena banyaknya musibah kebakaran yang terjadi di Kota Banjarmasin belakangan tadi. Dan bantuan baru akan diserahkan pada Oktober 2019 pada APBD Perubahan.

Membayangkan korban kebakaran di Alalak Selatan harus menunggu bantuan paket kompos hingga Oktober 2019 nanti, apa yang akan mereka pergunakan untuk memasak makanan sehari-hari.

Seandainya dapur umum tetap dibuka, tentu permasalah ini tidak terlalu pelik. Para korban kebakaran masih menikmati bantuan makanan dari donatur. Apalagi bantuan yang diserahkan dilaporkan telah melimpah, namun minus paket kompor.

Beruntung, saat koordinasi dan manajemen pascabencana kebakaran di Alalak Selatan dipertanyakan, ada beberapa donatur yang berinisiatif menanyakan apa yang paling diperlukan para korban kebakaran.

Persoalan belum diberikannya bantuan kompor gas pun akhirnya bisa terjawab. Koordinasi instansi terkait dengan donatur terkait bentuk dan macam bantuan di Alalak Selatan, semoga menjadi pelajaran bagi semua pihaknya pentingnya manajemen pascabencana kebakaran. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved