Berita Kabupaten Banjar

Pernikahan Dini Masih Marak, Begini Pendapat Pemudi Cantik Bumi Tuntung Pandang Ini

Sekarang bukan lagi zaman Siti Nurbaya. Namun siapa sangka pernikahan dini atau usia belia masih terus berlangsung di tengah masyarakat.

Pernikahan Dini Masih Marak, Begini Pendapat Pemudi Cantik Bumi Tuntung Pandang Ini
banjarmasinpost.co.id/idda royani
NORJANNAH, alumni Politala 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Sekarang bukan lagi zaman Siti Nurbaya. Namun siapa sangka pernikahan dini atau usia belia masih terus berlangsung di tengah masyarakat.

Walau fluktuatif, namun trennya cenderung meningkat. Karena itu pemerintah merevisi Undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang pernikahan dan telah disahkan Senin (16/09/2019) kemarin.

Kini, batas minimal usia pernikahan yakni 19 tahun dari semula 16 tahun untuk perempuan. Penyempurnaan regulasi perkawinan itu mendapat respons beragam masyarakat.

Namun umumnya kawula muda di Banua ini merespons secara positif. "Saya sebagai cewek, kurang sependapat kalau nikah di bawah umur," ucap Norjannah, Kamis (18/09/2019).

Alumni Politeknik Negeri Tanahlaut yang baru saja menjalani wisuda ini mengatakan anak di bawah umur umumnya belum mencapai kedewasaan dalam berpikir atau masih labil. Sifat seperti ini biasanya kerap memicu perselisihan dengan pasangan sehingga akhirnya bercerai.

Baca: Meski Kemarau tapi di Kabupaten Banjar Sukses Panen Komoditas Padi Unggul Ini

Selain itu, sebut warga Bumi Tuntung Pandang ini,dari aspek biologis pun belum memadai. "Alat reproduksi kedua pasangan juga belum matang. Meski masa expiredperempuan itu sekitar 30 tahun, bukan berarti harus nikah muda," tandasnya.

Mengapa? "Karena kehamilan pada seorang perempuan yang belum mencapai umur 20 tahun memicu terjadinya kematian," sebut perempuan cantik yang murah senyum ini.

Lebih lanjut ia mengatakan negara bisa dikatakan maju jika jumlah penduduknya tidak terlalu banyak. Angka penceraian tidak terlalu banyak dan angka kematian juga tidak terlalu tinggi.

Baca: Demplot Padi Unggul di Sungairangas Banjar Panen Berlimpah Berkat Teknologi Ini

Karenanya, nikah muda tak cuma merugikan diri sendiri ataupun keluarga, tapi negara pun turut terugikan. Jadi, bicara tentang pernikahan dini bukan cuma menyangkut permasalahan kesehatan, tapi juga sosial dan ekonomi.

"Kan kalau nikah muda, umumnya mempelai belum punya pekerjaan tetap. Jadi, berpengaruh juga terhadap perekonomian keluarga," pungkas Norjannah.

(banjarmasinpost.co.id/roy)

Penulis: Idda Royani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved