Berita Kalteng

TIPS ANTI ISPA untuk Orangutan saat Kabut Asap Pekat, dari Jus Bawang Bombay hingga Miltivitamin

idak hanya manusia yang mengeluhkan kabut asap di Kalimantan Tengah. Sebanyak 31 orangutan muda yang tengah dirawat Borneo Orangutan

TIPS ANTI ISPA untuk Orangutan saat Kabut Asap Pekat, dari Jus Bawang Bombay hingga Miltivitamin
Dok Banjarmasinpost.co.id
Berita TIPS ANTI ISPA untuk Orangutan saat Kabut Asap Pekat ada di harian Banjarmasin Post edisi Kamis (19/9/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PALANGKARAYA - Tidak hanya manusia yang mengeluhkan kabut asap di Kalimantan Tengah. Sebanyak 31 orangutan muda yang tengah dirawat Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) di Pusat Rehabilitasi Nyaru Menteng, Palangkaraya, menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Namun sakit mereka masih dinilai ringan. Tim medis telah memberikan pengobatan seperti menggunakan nebulizer. Jus bawang bombay dan multivitamin pun jadi menu orangutan. Sedangkan orangutan yang infeksinya dinilai parah diberikan antibiotik.

Yayasan BOS bersama para pemangku kepentingan terus bekerja keras menyelamatkan dan merehabilitasi orangutan Kalimantan dan habitatnya. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif terjadi di Kalteng berpotensi besar mengganggu kelestarian orangutan dan habitatnya.

CEO BOSF, Jamartin Sihite, mengatakan sampai saat ini ada sekitar 80 hektare hutan gambut di wilayah kerja yayasan yang terbakar. Sebanyak 20 hektare di daerah Sei Daha, dekat Pusat Penelitian Tuanan, dan 60 hektare di Sei Mantangai. Keduanya berada di Kabupaten Kapuas.

Baca: Kejang-kejang dan Sesak Nafas karena Terhirup Kabut Asap, 4 Siswi di HST Dirawat di IGD RS Damanhuri

Baca: Bantu Korban Kebakaran Cempaka, Suporter MFC Monster Galang Dana di Stadion SDL Martapura

Baca: Gubernur Kalteng Perketat Dinas Luar Bupati dan Wali Kota, Pemadaman Gunakan Rekayasa Hujan Buatan

“Namun tim kami di Program Konservasi Mawas bekerja sama dengan masyarakat sekitar dan tim di Pusat Penelitian Tuanan memadamkan api dan mengisolasi lokasi kebakaran. Kejadian ini tidak mengendurkan semangat kami untuk terus bekerja demi menyelamatkan orangutan Kalimantan dan habitatnya,” ujarnya.

Jamartin mengungkapkan pihaknya belum melakukan penyelamatan atau evakuasi orangutan yang terancam karhutla. Sementara ini kegiatan luar ruang para orangutan muda di Sekolah Hutan dibatasi hanya sampai setengah hari. Sedangkan bagi orangutan dewasa yang berada di dalam kompleks kandang, tim teknisi secara teratur melakukan penyemprotan air untuk menjaga suhu kandang tetap sejuk.

Jamartin menceritakan kebakaran sempat nyaris masuk areal Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng pada pekan pertama bulan Agustus 2019. Jaraknya hanya sekitar 300 meter. “Petugas kami bekerja keras selama sekitar empat jam bersama sejumlah pihak lain untuk memadamkan api,” kata Jumartin.

Tak hanya di Kalteng, karhutla juga dikhawatirkan merambah habitat bekantan di Kalimantan Selatan seperti yang terjadi pada 2015.

Ketua Komunitas Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), Amalia Rezeki, mengatakan secara tidak langsung karhutla pasti berdampak pada primata berhidung panjang yang menjadi ikon Kalsel tersebut. “Manusia saja terkena dampak negatif karhutla, apalagi bekantan yang hidup di alam terbuka,” ujarnya, Rabu (18/9) siang.

Saat ini, SBI Kalsel belum menangani langsung penyelamatan bekantan akibat karhutla. Biasanya, jika habitatnya terganggu, bekantan akan bermigrasi.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved