Berita Regional

Cuma Diberi Susu Formula dan Biskuit, Ahli Gizi Kritisi Isi Bantuan Bayi 14 Bulan yang Diberi Kopi

Ahli gizi, Dr dr Tan Shot Yen M Hum, mengkritisi bantuan yang diberikan pihak Dinas Kesehatan Polewali Mandar kepada bayi perempuan berusia 14 bulan

Cuma Diberi Susu Formula dan Biskuit, Ahli Gizi Kritisi Isi Bantuan Bayi 14 Bulan yang Diberi Kopi
KOMPAS.com/JUNAEDI
Khadijah Haura, bayi 14 bulan yang terpaksa minum lima gelas kopi tubruk sehari lantaran orangtuanya tak mampu beli susu di Polewali Mandar, Sulbar. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Ahli gizi, Dr dr Tan Shot Yen M Hum, mengkritisi bantuan yang diberikan pihak Dinas Kesehatan Polewali Mandar kepada bayi perempuan berusia 14 bulan yang diberi minum kopi lima gelas sehari.

Pasalnya, bantuan yang diberikan berupa susu formula dan biskuit.

Seperti yang dipaparkan dalam artikel Kompas.com, Kamis (19/9/2019); menurut Tan, air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik yang harus diberikan ibu untuk bayi. Tidak ada satupun makanan alternatif untuk bayi baru lahir, termasuk susu formula sekalipun.

"ASI punya kelebihan yang sama sekali tidak bisa ditiru (susu) formula. 50 tahun lebih manusia gagal menciptakan ASI buatan. Akhirnya seluruh dunia dipanggil untuk menyusui bayi lagi," jelasnya.

Baca: SEMPAT VIRAL- Bayi 14 Bulan Dicekoki 5 Gelas Kopi Sehari, Cegah Step hingga Menangis Kalo Minum Susu

Baca: Ponsel Andalan Baru Huawei Mate 30 Pro Ada Digenggaman, Begini Kesan Pertamanya

Baca: Foto Seksi Dinar Candy Sedang Tidur Tersebar, Eks Seteru Nikita Mirzani Ditipu Pria Bule

Tan mengingatkan, hanya ada satu alasan bayi dapat mengonsumsi susu formula, yakni jika bayi memiliki kondisi khusus sehingga dokter meresepkan untuk memberi susu formula.

"ASI murah, komplet gizi, steril, selalu punya komposisi beda sesuai kebutuhan bayi. Hebat kan! Mencegah kanker, punya antibodi buat si bayi. Berapa juta anak terselamatkan dari kematian justru karena ASI," ujar Tan.

Tan juga berkata bahwa tak ada satu pun ibu yang baru melahirkan tidak dapat mengeluarkan ASI. Perbedaannya hanyalah apakah ASI berlimpah atau kekurangan..

"Yang ada, justru saat hamil tua, ibu tidak diajarkan bagaimana untuk menyusui dengan benar," kata Tan dihubungi Kompas.com, Rabu (16/9/2019).

Dokter Tan berkata bahwa seharusnya, jajaran Dinkes dan penggerak gizi tetap mempertimbangkan kebutuhan yang paling mendasar dan dibutuhkan bayi itu, yaitu air susu ibu (ASI).

Daripada memberikan susu formula dan ASI, Dinkes seharusnya memberikan pengetahuan dasar pada ibu dari Hadijah Haura dan ibu menyusui lainnya mengenai bagaimana memperlancar dan memperbanyak produksi ASI.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved