Opini

KPK dan Karakter Kita

Sejak dibentuk 2002 hingga sekarang, KPK telah menjebloskan ratusan orang ke penjara akibat korupsi.

KPK dan Karakter Kita
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh:MUJIBURRAHMAN Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - “Bapak-bapak kok kelihatan lebih hati-hati dan jaim hari ini,” kata seorang pria.“Begitulah jika sedang didampingi KPK,” kata yang lain menanggapi, diiringi ledak tawa teman-temannya.

Mereka adalah para pejabat pria yang sama-sama menghadiri rapat nasional. Jangan Anda kira yang dimaksud dengan KPK adalah Komisi Pemberantasan Korupsi. Yang dimaksud adalah isteri sang pejabat.

Meskipun bercanda, menyebut isteri sebagai KPK menyiratkan betapa para pejabat itu takut pada Komisi Pemberantasan Korupsi. Bagaimana tidak, orang sekelas menteri, ketua DPR, ketua Mahkamah Konstitusi, ketua partai hingga pengusaha besar bisa dibui oleh KPK, apalagi yang di bawahnya.

Sejak dibentuk 2002 hingga sekarang, KPK telah menjebloskan ratusan orang ke penjara akibat korupsi.
Korupsi memang tidak lantas berhenti, tetapi keberadaan KPK yang membuat orang takut itu memberi harapan pada publik bahwa setidaknya orang akan berpikir panjang jika ingin korupsi.

Baca: Laman Kemendagri Diretas, Muncul Gambar Tabur Bunga Nisan KPK

Baca: Smart SIM Bisa Dipakai Belanja

Baca: 708 Bangunan Walet Turut Merambah, Lahan Sawah di Kalsel Terus Menyusut

Baca: Hasil Akhir Chelsea vs Liverpool 1-2, The Reds Kokoh di Puncak Klasmen Liga Inggris

Jika korupsi itu ibarat gedung dengan pintu pengaman berlapis, rasa takut adalah pintu terakhir. Jika pintu ini jebol apalagi sengaja dibuka, maka akan semakin banyak orang yang tergoda dan mudah memasukinya.

Selain rasa takut, apa saja pintu sebelumnya yang harus diterobos? Pertama adalah pintu rasa bersalah.Orang yang masih punya nurani pasti akan merasa bersalah jika melakukan korupsi, meskipun publik tidak mengetahuinya.

Bagi yang beriman, rasa bersalah artinya merasa berbuat dosa. Jika pintu ini jebol, masih ada pintu penghalang lainnya, yaitu rasa malu. Betapa malunya kelak jika dia ketahuan korupsi.

Jika rasa bersalah, rasa malu hingga rasa takut sudah lenyap, maka orang pun berani melakukan tindak kejahatan seperti korupsi. Salah satu yang membuat orang kehilangan tiga perasaan itu adalah jika banyak orang melakukannya.

Perlahan tapi pasti, perasaan bersalah, malu dan takut akan sirna jika hampir semua orang di jaringan kerja kita ramai-ramai alias berjemaah melakukan korupsi. Karena itu, keresahan banyak pihak atas revisi UU KPK yang berjalan begitu cepat dapat dipahami.

Halaman
12
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved