Berita Banjarbaru

Prof Husaini Sebut Kabupaten & Kota Lain Kasus Stunting Turun, Kok Banjarbaru Malah Naik?

Ketua tim peneliti pengendalian gizi buruk atau stunting kerjasama Kemenkes RI-FK ULM Prof Dr Husaini SKM Mkes mengatakan persoalan stunting

Prof Husaini Sebut Kabupaten & Kota Lain Kasus Stunting Turun, Kok Banjarbaru Malah Naik?
Banjarmasinpost.co.id/Nia kurniawan
Prof Dr Husaini SKM Mkes saat menyampaikan orasi ilmiah pada sidang terbuka senat Akademi Kebidanan Banjarbaru Yayasan Karya Husada Mandiri, Pengukuhan dan angkat sumpah wisudawati angkatan IX tahun ajaran 2018/2019 prodi DIII kebidanan, Senin (23/9) di Hotel Roditha Banjarbaru. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Ketua tim peneliti pengendalian gizi buruk atau stunting kerjasama Kemenkes RI-FK ULM Prof Dr Husaini SKM Mkes mengatakan persoalan stunting ini adalah perampasan hak untuk hidup sehat.

Menurut Guru besar Bidang Ilmu kesehatan masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini jadi indikator kinerja pelayanan publik oleh pemerintah setempat.

Yang mana pencegahan dan penanggulangan stunting tidak bisa hanya dibebankan pada satu sektor bidang kesehatan saja. Tapi harus banyak melibatkan banyak sektor.

Baca: Viral Video Tangis Haru Gadis Penjual Kue Odeh-ondeh karena Tak Rela Kapolres Kesayangannya Pergi

Baca: Sering Error, Pemkab Banjar Berharap Traffic Light Perempatan Sekumpul Diganti dengan Tenaga Listrik

Baca: Gara-gara Masak Jengkol, Rumah Kakek Asra di Padang Batung HSS Ini Terbakar

"Sangat disayangkan Banjarbaru . Dari 13 kabupaten kota, semua turun kecuali Banjarbaru yang malah naik dari 34 persen sekian jadi 39,73 persen hampir mendekati sangat tinggi. Kabupaten Banjar juga turun tapi masih tinggi. Indonesia itu masuk lima besar kasus stunting terbanyak di dunia. Yaitu dengan angka 30,8 persen. Sedangkan rekomendasi who mestinya di angka 20 persen. Sedangkan Kalsel 33,1 persen. Jauh diatas masih dari nasional apalagi WHO," katanya saat menyampaikan orasi ilmiah pada sidang terbuka senat Akademi Kebidanan Banjarbaru Yayasan Karya Husada Mandiri, Pengukuhan dan angkat sumpah wisudawati angkatan IX tahun ajaran 2018/2019 prodi DIII kebidanan, Senin (23/9) di Hotel Roditha Banjarbaru.

Prof Husaini yang juga merupakan Ketua dewan pembina yayasan karya Husada mandiri dan pembina Akbid Banjarbaru ini mengatakan selama ini dalam pencegahan stunting cuma terfokus di Ibu hamil dan anak yang baru lahir dan balita.

"Selama ini konsen disitu, seharusnya ideal dicegah ke generasi sebelumnya, dimulai dari ibu, remaja putri, pasangan usia subur, ibu hamil dan balita. Selain itu pencegahan juga agar dilakukan revitalisasi posyandu, karena fasilitas ini merupakan deteksi awal terjadinya gejala berbagai kesehatan tengah masyarakat," kata lulusan S3 Ilmu kedokteran dan kesehatan FK UGM ini.

Penyebab dasar stunting yakni Sosial budaya, ekonomi dan politik lokal. Sebanyak 20 lulusan diwisuda pada momen sakral sidang terbuka senat Akademi Kebidanan Banjarbaru.

Rasa syukur dirasakan Direktur akademi Kebidanan Banjarbaru Hj Gusti Evi Zaidati , SSiT Mkes dan Ketua Yayasan Karya Husada Mandiri H Antung Sadeli mahfuz.

"Ya ada 20 wisudawati. Pesan saya maknai wisuda ini jadikan momentum dan bekal pendidikan. Jadilah alumni yang bermutu baik sikap maupun ilmu. Jadi bidan yang profesional," ucap Direktur akademi Kebidanan Banjarbaru Hj Gusti Evi Zaidati , SSiT Mkes. Selama kurang lebih 12 tahun Akbid Banjarbaru sudah meluluskan 600 lebih bidan.

(banjarmasinpost.co.id/niakurniawan)

Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved