Tajuk

Batu dan Pentungan

Pergerakan mahasiswa ini mengusung tujuan yang sama, yakni menolak RUU KUHP, RUU Pertanahan, RUU Pemasyarakatan, RUU Minerba, dan RUU Ketenagakerjaan.

Batu dan Pentungan
TRIBUN KALTIM / CHRISTOPER D
TOLAK REVISI UU KPK - Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Kaltim Bersatu menggelar aksi tolak RUU KPK di depan DPRD Kaltim, Senin (23/9/2019). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - RIBUAN mahasiswa dari sejumlah universitas di Jakarta dan sekitar bergerak menuju Gedung DPR/MPR Senayan, Selasa (24/9). Begitu juga dengan mahasiswa yang berada di berbagai daerah lainnya seperti Yogyakarta, Medan, Malang, Makassar dan Kalimantan Selatan, mereka menggeruduk gedung DPRD.

Pergerakan mahasiswa ini mengusung tujuan yang sama, yakni menolak RUU KUHP, RUU Pertanahan, RUU Pemasyarakatan, RUU Minerba, dan RUU Ketenagakerjaan.

Khusus demo yang digelar para mahasiswa di depan Gedung DPR RI, selain menolak lima RUU, mereka juga menyampaikan empat poin tuntutan. Pertama, merestorasi upaya pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Kedua, merestorasi perlindungan sumber daya alam, pelaksanaan reforma agraria, dan tenaga kerja dari ekonomi yang eksploitatif.

Ketiga, merestorasi demokrasi, hak rakyat untuk berpendapat, penghormatan perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia, serta keterlibatan rakyat dalam proses pengambilan kebijakan. Kermpat, merestorasi kesatuan bangsa dan negara dengan penghapusan diskriminasi antar etnis, pemerataan ekonomi, dan perlindungan bagi perempuan.

Presiden Joko Widodo pun bersikap. Setelah mencermati masukan yang diberikan mahasiswa dan masyarakat, Jokowi meminta DPR menunda pengesahan empat RUU. Jokowi meminta pengesahan RUU KUHP, RUU Pertanahan, RUU Minerba, dan RUU Pemasyarakatan tidak dilakukan oleh DPR periode ini yang masa jabatannya hanya sampai 30 September.

Terlepas dari penolakan mahasiswa dan sikap Jokowi itu, yang sangat kita sayangkan demo damai itu berujung rusuh. Kericuhan terjadi karena pendemo dan petugas keamanan sama-sama tidak bisa mengendalikan emosi.
Di televisi dan di sejumlah video yang beredar di media sosial, kita menyaksikan sekumpulan mahasiswa memaksa masuk ke dalam Gedung DPR dan mereka melempar petugas dengan botol, bambu, dan bebatuan.

Sementara petugas yang bersiaga di dalam gedung menembakkan air dari mobil water cannon ke arah mahasiswa untuk menghalau mereka. Tak itu saja polisi juga menembakkan gas air mata ke arah mahasiswa dan mengejar pendemo pakai pentungan.

Kericuhan itu suatu yang kesia-siaan. Tidak ada menang dan tidak ada yang kalah dalam kericuhan. Yang ada hanya luka, luka fisik kedua belah pihak. Luka karena terkena lempar batu dan luka karena dipentung.

Salah satu mahasiswa yang terluka berat adalah mahasiswa Universitas Al Azhar Indonesia, Faisal Amir. Dia mengalami pendarahan di daerah kepala dan juga patah di bahu kanan. Atas lukanya itu, Faisal Amir menjalani operasi dan operasi berjalan lancar. Meski demikian kondisi Faisal masih dalam keadaan kritis. Dia dirawat di intensive care unit (ICU) RS Pelni.

Kita mengharapkan yang terjadi pada Faizal Amir tidak terjadi lagi dalam aksi-aksi menolak RUU KUHP, RUU Pertanahan, RUU Pemasyarakatan, RUU Minerba, dan RUU Ketenagakerjaan. Kepada mahasiswa, kita harapkan berdemo dengan damai. Sampaikan penolakan itu dengan cara cerdas dan terkontrol.

Kepada polisi kita meminta untuk tidak menggunakan kekerasan dalam mengamankan demonstrasi mahasiswa, tidak hanya di Jakarta, tapi juga di sejumlah daerah lainnya. Polisi juga jangan penggunaan kewenangan yang berlebihan dalam menghadapi demonstrasi mahasiswa.(*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved