Tajuk

Hujan dan Aksi Nyata

DALAM kurun empat hari terakhir, Kota Banjarmasin dan sejumlah kota di sekitarnya mulai diguyur hujan. Limpahan hujan,

Hujan dan Aksi Nyata
banjarmasinpost.co.id/nia kurniawan
Pemantaun aksi Heli water bombing memadamkan kebakaran lahan di Kabupaten Banjar 

BANJARMASINPOST.CO.ID - DALAM kurun empat hari terakhir, Kota Banjarmasin dan sejumlah kota di sekitarnya mulai diguyur hujan. Limpahan hujan, dipandang sebagai berkah di tengah bencana kabut asap yang terjadi hampir merata di seluruh wilayah Kalimantan Selatan.

Tak hanya memadamkan api, hujan diharap juga bisa mendinginkan suhu politik di tengah aksi mahasiswa yang memanas. Karena, salah satu tuntutan dari mahasiswa yaitu agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalsel serius menangani kebakaran hutan dan lahan, agar tidak lagi menimbulkan kabut asap.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), beberapa waktu lalu mengeluarkan rilis yang menyatakan awal musim hujan akan mundur 10 hingga 30 hari dari normalnya dan terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan.

Ini akibat dari pengaruh suhu muka air laut di wilayah Samudra Hindia sebelah barat Sumatera dan perairan Indonesia di bagian selatan ekuator lebih dingin dari suhu normal (260°-270°C). Kalsel baru memasuki musim penghujan di akhir Oktober mendatang.

Padahal, hujan memiliki arti banyak dalam kondisi kekeringan panjang saat ini. Tak hanya karhutla, namun minimnya curah hujan juga membuat pasokan air bersih tersendat akibat intrusi air laut. Dampaknya pun tak kalah luas. PDAM Bandarmasih, misalnya, telah mengumumkan penurunan pasokan air akibat belum adanya hujan di daerah hulu.

Untuk ‘mendatangkan’ hujan pun bukan perkara sederhana. Tak hanya dengan rekayasa teknologi yang mahal, yaitu menggunakan pesawat CN 295 menyemai garam untuk membuat hujan buatan.

Selain itu, Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalimantan Selatan membentuk Satgas Doa dan Salat Sunnah Minta Hujan. Satgas tidak turun langsung ikut memadamkan api, tapi mengakomodir pelaksanaan doa dan ibadah salat sunah minta hujan di setiap wilayah dengan potensi tinggi terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Memanfaatkan turunnya hujan di sebagian wilayah, sudah saatnya dilakukan pemetaan ulang, daerah-daerah mana saja yang harus ditangani dan dikonsentrasikan personelnya.

Dan kembali lagi ke suhu politik yang memanas, mahasiswa juga layak melakukan aksi nyata, turun memadamkan kebakaran hutan dan lahan. Setiap hari ratusan, bahkan ribuan personel TNI/Polri/BPBD dan tim lain, berjibaku dengan api. Belum lagi helikopter dengan biaya sewa cukup besar juga didatangkan untuk memadamkan api.

Karhutla tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri, sehingga semua pihak harus terjun secara bersama-sama, termasuk mahasiswa. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved