Opini Publik

Menyoal Kompetensi Guru

Apapun kurikulumnya, guru yang jadi poros utama. Itu yang seharusnya menjadi perhatian. Guru menjadi sosok yang paling penting perannya dalam pendidik

Menyoal Kompetensi Guru
Hanani
Suasana uji kompetensi guru di Barabai, HST, Senin (30/7/2012).

Oleh: Kusnandar Putra SPd, Guru Fisika dan Founder Tholibul Course

BANJARMASINPOST.CO.ID - Apapun kurikulumnya, guru yang jadi poros utama. Itu yang seharusnya menjadi perhatian. Guru menjadi sosok yang paling penting perannya dalam pendidikan. Bisa dikatakan, kualitas guru berbanding lurus dengan keberhasilan guru.

Namun, dewasa ini kita melihat banyak hal yang menurun dalam pendidikan di Indonesia. Berdasar data UNESCO dalam Global Education Monitoring (GEM) Report 2016, pendidikan di Indonesia menempati peringkat ke-10 dari 14 negara berkembang dan kualitas guru menempati ukuran ke-14 dari 14 negara berkembang di dunia. Memprihatinkan sekali.

Belum lagi, data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) saat melakukan penelitian Right to Education Index (RTEI) guna mengukur pemenuhan hak atas pendidikan di berbagai negara. Hasil penelitian menyatakan kualitas pendidikan di Indonesia masih di bawah Ehtiopia dan Filipina.

Hal ini menjadi ironi, sebab pemerintah telah menggelontorkan APBN untuk alokasi pendidikan ini sangat besar. Sejak 2016 mencapai Rp 370,4 T hingga 2019 menyentuh angka Rp 492,5 T.

Padahal, pemerintah telah berupaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia ini, mulai dari kehadiran kurikulum 2013, peningkatan efektivitas BOS, program Indonesia Pintar, dan sebagainya. Akan tetapi, masih saja ada persoalan kompleks dalam pendidikan kita.

Penyebab Terbesar

Dari berbagai sumber dan juga pengamatan penulis sebagai tenaga pendidik, ditemui banyak faktor rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. Pertama, rendahnya kualitas tenaga pendidik. Faktanya, pada 2015, hasil Uji Komptensi Guru (UKG) rata-rata nasional hanya 44,5, jauh di bawah nilai standar 75. Bahkan kalau ditanya kepada sebagian guru tentang soal UKG, mereka banyak mengeluh susahnya soal tersebut. Sebenarnya bukan soalnya susah, tapi sebagian guru tidak mau naik level dalam belajar. Selalu saja bertahan di zona nyaman alias tidak mau belajar lagi. Inilah menjadi faktor terbesar.

Kedua, guru tidak mau memperbaiki pola pengajaran. Di sana ada saja guru yang hanya menggunakan metode ceramah. Guru hanya membaca buku lalu anak-anak menulis. Artinya proses belajar mengajar hanya satu arah. Akhirnya, siswa bosan karena monoton.

Ketiga, guru tidak melek teknologi. Di era 4.0 ini harusnya memicu guru untuk lebih memperluas wawasannya tentang teknologi. Siswa rata-rata telah memiliki smartphone. Dia bisa mengakses apa saja dari alat komunikasi tersebut. Oleh karena itu, guru juga harus tahu tentang teknologi guna memperbarui informasi bagaimana kemajuan pembelajaran era sekarang. Sungguh miris jika siswa lebih tahu mengoperasikan smart phone dibandingkan guru sendiri. Siswa tahu bagaimana cara mendownload modul, tapi guru sendiri tidak mengerti. Hal itu yang terjadi saat ini.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved