Barita Batola

BKSDA Kalsel Koordinasi dengan Protokoler Gubernur untuk Grand Opening Pulau Bakut Batola

Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalsel memastikan pihaknya pihaknya sedang berkoordinasi dengan protokoler

BKSDA Kalsel Koordinasi dengan Protokoler Gubernur untuk Grand Opening Pulau Bakut Batola
banjarmasinpost.co.id/edi nugroho
Pengunjung Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut, Kabupaten Batola berfoto di salah satu sudut objek wisata menarik tersebut dengan latar belakang jembatan Barito. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARABAHAN - Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalsel memastikan pihaknya pihaknya sedang berkoordinasi dengan protokoler Gubernur Kalsel, untuk grand opening Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut, Kabupaten Batola.

“Iya ini kami masih koordinasi dengan protokoler Gubernur untuk grand opening TWA Pulau Bakut. Mudahan-mudahan segera ada jadwalnya” kata Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalsel, Mahrus Aryadi, melalui Kepala Seksi Konservasi Wilayah 2 Banjarbaru BKSDA Kalsel Ridwan Efendy, Rabu (3/10/19).

Sementara itu Camat Anjir Muara, Jaya, menambahkan pengunjung Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut yang berada di bawah Jembatan Barito Kabupaten Barito Kuala (Batola) justru terbanyak dari paket wisata susur sungai Menara Pandang Banjamasin-Pasar Terapung Kuin-Pulau Bakut.

Baca: Ayu Ting Ting Saingi Song Hye Kyo Singkirkan Nagita Slavina Hingga Luna Maya, Voting Sempat Diprotes

Baca: Kabut Asap Kembali Menebal di Kota Banjarbaru dan Martapura, Begini Kondisinya

Baca: Datangi Kantor DPRD Balangan, KONI Kabupaten Balangan Ajukan Usulan Anggaran Senilai Rp 4,5 M

“Iya kami amati justru pengunjung terbanyak dari paket paket wisata susur sungai Menara Pandang Banjamasin-Pasar Terapung Kuin-Pulau Bakut. Alhamdulilllah, Jadi pulau bakut saat ini dijadikan paket wisata susur sungai dari Banjarmasin. Memang ada juga warga yang langsung datang ke pulau Bakut,” kata Jaya.

Menurut Jaya, dua pungutan masuk TWA Pulau Bakut yang berada di bawah Jembatan Barito Kabupaten Barito Kuala (Batola) ditetapkan, yakni Rp10 ribu, dengan perincian Rp5 ribu masuk ke kas dua desa dan Rp5 ribu masuk ke pemasukan negara bukan pajak ( PNBP) Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalsel.

“Iya ada dua pungutan masuk ke TWA pulau Bakut, yakni Rp10 ribu dengan perincian Rp 5 ribu masuk kas dua desa dan Rp5 ribu masuk PNBP. Jadi ada dua karcis masuk ke TWA Pulau Bakut, yakni karcis perdes Desa Beringin Baru dan karcis BKSDA,” tegas ujarnya,

Dijelaskan Jaya, pengelolaan wisata Pulau Bakut itu melibatkan masyarakat dua desa. Pungutan Rp5 ribu itu hasil musyawarah di kecamatan dan dilanjutkan pembahasan peraturan desa (perdes) di Desa Marabahan Baru dan Desa Beringin Alalak.

“Jadi dari pungutan Rp5 ribu per pengunjung pulau Bakut itu diatur berapa untuk kas desa dan kelompok masyarakat. Rp 5 ribu dibagi untuk dua desa, Desa Beringin Alalak dan Marabahan Baru. Pungutan masuk pulau Bakut pun resmi dan bukan pungutan liar (pungli),” katanya.

Dijelaskannya, untuk menyeberang ke Pulau Bakut itu Rp10 ribu pulang pergi. Ada juga informasi menyebarang ke Pulau Bakut dari bawah Jembatan Barito itu Rp20 ribu per orang sehingga biaya penyeberang ini dinilai terlalu besar.

“Biaya menyeberang dari bawah Jembatan Barito ke Pulau Bakut itu Rp20 ribu dan ini akan kita telusuri karena terlalu mahal. Kita akan coba komunikasikan agar biaya menyeberang ini menyesuikan perdes Desa Marabahan Baru,” katanya.

Jaya tak ingin pengunjung masuk ke Pulau Bakut tidak ada karcis sehingga terkesan pungli. Jadi saat ini pengunjung yang masuk ke Pulau Bakut akan mendapakan dua karcis resmi, yakni karcis perdes Desa Beringin Baru dan karcis BKSDA Provinsi Kalsel. (Banjarmasinpost.co.id/edi nugroho)

Penulis: Edi Nugroho
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved