Fikrah

Al Maut (Kematian)

ANGGOTA DPR/MPR RI dilantik 1 Oktober 2019. Banyak calon gagal menjadi anggota legislatif. Yang dilantik/yang gagal sama-sama calon pasti, camat

banjarmasinpost.co.id/rahmadhani
KH Husin Naparin 

OLEH: KH HUSIN NAPARIN, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - ANGGOTA DPR/MPR RI dilantik 1 Oktober 2019. Banyak calon gagal menjadi anggota legislatif. Yang dilantik/yang gagal sama-sama calon pasti, camat (calon mati). Al-Manfaluthi dalam An-Nazharat menulis, al-aan, Innii aktubu biqalaamii, laa a’lamu hal yashilu madaahu; albatsu tsiyaabii, laa a’lamu hal akhla’uhu am yadu-gaasil; akhruju minal-baiti, laa a’lamu hal hadzaa aakhiru khuthwatii li’anni mahmuulun ala na’syil-janazaati.

Artinya: Sekarang aku menulis dengan penaku, aku tidak tahu akankah sampai ke akhir kalimat; aku memasang pakaianku, aku tidak tahu, aku sendirikah yang melepaskannya ataukah tangan pemandi mayat; aku keluar rumah, aku tidak tahu, apakah ini langkah akhirku karena aku kembali telah digotong di atas keranda mayat.”

Maut mengejar kita, setinggi apapun kekuasaan, taruhlah presiden. Telah wafat sejumlah Presiden RI, Soekarno, Soeharto, Abdurrachman Wahid, dan terakhir BJ Habibie. Ainamaa takuunuu yudrikkumul-mautu walau kuntum fii buruujin musyayyadadatin (di mana saja kamu berada, kematian menemuimu, kendatipun kamu di dalam benteng tinggi & kokoh” (QS 3/78). wamaa tadrii nafsun bi’ayyi ardhin tamuut, dan tiada seorangpun tahu di bumi mana akan mati ...” (QS 31/34).

Di akhir hayatnya BJ Habibie menulis, “Ternyata kembali ke nol tidak ada yang dapat dibanggakan, dulu bangga dengan jabatan apa itu nakhoda, apa itu KKM, apa itu direktur, apa itu boss perusahaan besar. Saat kematian semakin dekat. Kalaulah sempat? Renungan untuk kita semua. Saya diberikan kenikmatan Allah ilmu technology, bisa membuat pesawat, sekarang saya tahu, ilmu agama lebih bermanfaat untuk umat.

Kalo disuruh memilih antara keduanya, saya akan memilih ilmu Agama. Sepi penghuni, istri sudah meninggal. Tangan menggigil lemah. Penyakit menggerogoti sejak lama. Duduk tak enak, berjalan tak nyaman. Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta seorang pembantu.

Tiga anak semuanya sukses, berpendidikan tinggi sampai keluar negeri. Ada yang berkarir di luar negeri. Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi. Ada yang jadi pengusaha. Soal ekonomi, saya angkat dua jempol, semuanya kaya raya. Namun saat tua seperti ini “merasa hampa”, ada pilu mendesak” di sudut hati. Tidur tak nyaman. Dia berjalan memandangi foto-foto masa lalunya ketika masih perkasa dan enerjik penuh kenangan.

Di rumah besar dia merasa kesepian, tiada suara anak, cucu, hanya detak jam dinding berbunyi teratur. Punggungnya merasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya. Dari sudut mata ada air menetes, rindu dikunjungi anak-anaknya. Semua sibuk, tinggal jauh di kota/negara lain. Ingin pergi ke tempat ibadah, badan tak mampu berjalan. Sudah terlanjur melemah. Begitu lama waktu bergerak, tatapannya hampa, jiwanya kosong, hanya gelisah menyeruak sepanjang waktu.

Laki-laki itu barangkali adalah saya atau barangkali anda yang membaca tulisan ini. Hanya menunggu sesuatu yang tak pasti, yang pasti hanyalah KEMATIAN.

Rumah besar tak mampu lagi menyenangkan hatinya. Anak sukses tak mampu menyejukkan rumah mewahnya yang ber AC. Cucu-cucunya hanya seperti orang asing bila datang, asset produktif terus menghasilkan, entah untuk siapa ? Kira-kira jika malaikat “datang menjemput” seperti apakah kematiannya nanti. Siapa yang memandikan? Dimana dikuburkan? Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaannya datang mengurus jenazah dan menguburkan? Apa amal yang akan dibawa ke akhirat? Rumah dan asset akan ditinggal. Anak-anak, ingatkah berdoa untuk kita? Sedang ibadah mereka sendiri, belum tentu dikerjakan? Apalagi jika anak tak sempat dididik agama? Ilmu agama hanya sisipan.

“Kalaulah sempat” menyumbang yang cukup di tempat ibadah, Rumah Yatim, Panti Asuhan atau ke tempat-tempat di jalan Allah lainnya. “Kalaulah sempat” dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang, “Kalaulah sempat” membelikan tanah untuk tetangga, kenalan, kerabat dan handai taulan.

Kalaulah kita tidak kikir kepada sesama, mungkin itu semua menjadi “Amal Penolong”. Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi “Orang Yang Shaleh” dan ilmu agamanya lebih diutamakan; Ibadah sedekahnya dibimbing/diajarkan dan diperhatikan, mungkin akan “Bangun Malam” meneteskan airmata mendoakan orangtuanya.

Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat bagi sesama. Mengapa kalau sempat? Mengapa semua itu tidak menjadi perhatikan utama? Sungguh kita tidak adil pada diri sendiiri. Kenapa kita tidak lebih serius menyiapkan bekal untuk menghadap-Nya dan mempertanggungjawabkan kepada-Nya. Jangan terbuai dengan ”Kehidupan Dunia”, tapi jadikan itu bekal perjalanan panjang & kekal di akhir hidup kita. (Referensi 06.40.9/10/2019 Rudy Cab REALITA). (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved