Ekonomi dan Bisnis

Bank HSBC Akan Tutup Cabang di Banjarmasin, OJK : Imbas KemajuanTeknologi dan Efisiensi

Bank HSBC cabang Banjarmasin bakal tidak lagi beroperasi di Kota Banjarmasin per 21 Oktober 2019

Bank HSBC Akan Tutup Cabang di Banjarmasin, OJK : Imbas KemajuanTeknologi dan Efisiensi
Banjarmasinpost.co.id/Kaspul Anwar
Kantor cabang HSBC Banjarmasin akan tutup 21 Oktober 2019. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Fenomena tutup kantor cabang di industri perbankan terus berlanjut. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebanyak 1.000 lebih kantor cabang perbankan di Indonesia tutup dalam tiga tahun terakhir.

Hal ini pula yang juga bakal terjadi pada Bank HSBC cabang Banjarmasin.

Dalam pernyataan resmi yang dipublis melalui Banjarmasin Post, bank asal Hongkong dan Shanghai ini mengumumkan per 21 Oktober 2019 sudah tidak beroperasi lagi.

Soal fenomena tutup cabang, Kepala OJK Regional Kalimantan, Haryanto membenarkan jika HSBC bakal menutup kantor cabangnya di Banjarmasin.

Baca: Siap Bayar Pembebasan Lahan Pasar Beras, Pemko Ternyata Masih Bingung Relokasi Pedagang

Baca: Kombinasikan Kuliner Banjar dan Modern, Ini Menu Terbaru Chiken Roll Habang Nasa Hotel Banjarmasin

Baca: Atta Halilintar Kerasukan Jin Sebelum Bercinta dengan Bebby Fey? Sosok Ini Ungkap Fakta Berbeda

Baca: Kalsel Food Festival Jilid II Hadir di Murjani, Buruan Banyak Kuliner yang Maknyus Lho

Proses pengajuannya sendiri sudah sampai pada Departemen Perijinan dan Informasi Perbankan (DPIP) OJK Kantor Pusat Jakarta.

Dia menyebutkan, hal ini terjadi akibat perkembangan digitalisasi layanan perbankan yang semakin pesat.

"Sudah sekitar lima tahun lalu beberapa bank mengajukan penutupan kantor karena kemajuan teknologi. Semua proses transaksi yang bisa dilakukan secara digital membuat pihak perbankan untuk lebih mengefisiensikan operasional," jelasnya kepada Banjarmasinpost.co.id.

Dia menegaskan, tutupnya beberapa cabang bank termasuk HSBC relatif tidak terpengaruh pada kondisi perekonomian namun lebih cenderung pada teknologi dan efisiensi.

Izin penurunan kantor tersebut akan diberikan dalam dua tahap yakni Izin prinsip rencana penurunan dan
Izin penutupan setelah Bank menyelesaikan kewajiban nya seperti penyimpan dana dan hak-karyawan dan lain-lain.

"Seperti halnya Gojek, tidak punya cabang tetapi orang di berbagai kota atau daerah bisa pesan transportasi, makanan dan lain-lain tanpa kantor operasional. Bukalapak dan sebagainya juga demikian. Sekarang orang bisa jual barang tanpa punya toko fisik. Sehingga banyak toko hypermarket tutup, gerai matahari dan lain-lain juga sudah banyak tutup," urainya.

Memasuki industri 4.0 saat ini terutama milenial hampir jarang membeli suatu barang dengan pergi ke toko offline lantaran aktivitas tersebut cukup bisa dilakukan via handphone.

Baca: NEWSVIDEO : Tolak Pertambangan di Meratus, Ratusan Mahasiswa Banjarmasin Gelar Aksi Turun ke Jalan

Baca: Persiapan 89 Persen, Endah Optimis November Bandara Syamsudin Noor Layani Penerbangan Internasional

Baca: ACT Fasilitasi Kepulangan Pengungsi Wamena ke Sumatera Barat

Senada, Haryanto menambahkan perbankan pun berevolusi demikian. Bahkan sejumlah perbankan telah memaksimal sistem layanan digital perbankan hingga ke pembukaan rekening. BCA contohnya, lanjut dia, nasabah bisa membuka rekening via gawai tanpa harus ke kantor cabang.

"Dengan adanya penyediaan layanan perbankan digital dapat menjangkau konsumen yang lebih luas di seluruh Indonesia secara efisien dan diharapkan dapat memperluas sekaligus mempermudah akses masyarakat terhadap layanan keuangan," pungkasnya. (Banjarmasinpost.co.id/Mariana)

Penulis: Mariana
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved