Tajuk

Siaga Bencana Lagi

Hujan berintesitas rendah disertai angin kencang dan petir mulai turun di Kalsel. Warga Kalsel pun, kini dituntut siaga bencana

Siaga Bencana Lagi
BPost Cetak
Ilustrasi 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Meski BMKG memperkirakan musim penghujan baru tiba pada akhir November 2019, namun sejak beberapa hari lalu hujan berintensitas rendah hingga sedang telah melanda wilayah Kalimantan Selatan.

Bahkan, beberapa wilayah merasakan curah hujan berintensitas tinggi disertai angin kencang dan petir. Akibatnya, kalau sebelumnya wilayah Kalimantan Selatan siaga kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, kehadiran hujan lebat disertai angin kencang tersebut menimbulkan bencana baru, puting beliung serta tanah longsor.

Walaupun diharapkan telah turunnya hujan yang membahasahi Bumi Antasari mampu mengurangi dan menghilangkan bencana kebakaran hutan dan lahan, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Di pagi hari, saputan kabut asap malah makin tebal disertai udara dingin.

Kini, saat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih belum benar-benar selesai, ancaman tanah longsor dan banjir bakal melanda saat musim penghujan benar-benar datang pada akhir November 2019 nanti.

Baca: Jelang Liverpool vs Leicester City, Brendan Rodgers : Saya Tak Sabar untuk Kembali

Baca: HUT ke-74 TNI, Danrem 101/Antasari : Ada Persoalan Kita Pecahkan Bersama

Baca: Rusunawa di Tanbu dan Kotabaru Belum Difungsikan, Haris Tak Sabar Pindah

Baca: Bupati Balangan Jadi Tersangka Kasus Penipuan, Begini Jawaban Pengacara Ansharudin

Ini berarti tugas aparat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel dan kabupaten dan kota di Banua bakal terus berlanjut. Mereka harus terus bersiaga setelah sebelumnya berkutat dengan bencana kebakaran hutan dan lahan, kini saat musim penghujan datang kembali harus siaga menghadapi tanah longsor dan banjir.

Becermin dari berbagai bencana alam berupa banjari dan tanah longsor yang terjadi di musim penghujan tahun-tahun sebelumnya, tentu BPBD Kalsel dan kabupaten serta kota memiliki data wilayah mana saja yang rawan terkena bencana.

Tentu, wilayah-wilayah tersebut bakal menjadi perhatian utama dari aparat BPBD, supaya bisa meminimalisasi dampak bencana agar tidak banyak menyebabkan kerugian seperti kejadian sebelumnya.

Namun, dibanding dengan kejadian serupa di tahun-tahun sebelumnya. Kali ini wilayah yang patut diwaspadai bakal terdampak musim penghujan adalah hutan-hutan yang sebelumnya menjadi lokasi kebakaran di musim kemarau lalu.

Pasalnya, kebakaran hutan telah menyebabkan banyak pohon yang menjadi pengikat tanah dan air di musim penghujan, telah mati terbakar. Ditakutkan, akan pohon yang telah mati tak mampu menahan pergerakan tanah di bawahnya.

Akibatnya, bisa saja tanah dari hutan-hutan yang terbakat tersebut menjadi labil dan rawan longsor, hingga mengancam daerah-daerah yang ada di sekitarnya. Begitu juga limpahan air hujan, tak bisa ditahan oleh hutan tersebut dan menyebabkan banjir yang lebih besar dibanding sebelumnya.

Baca: Jaga Fungsi Penglihatan, Ini 5 Kandungan Alpukat Baik untuk Kesehatan Mata

Baca: Rencanakan Kabur, Napi Asal Perancis Ini Jebol Tembok Lapas Mataram dengan Terali Besi dan Batu

Baca: Lari Terbirit-birit Dikejar Anjing, Bebby Fey Akui Buah Dada Montoknya Palsu, Disayat Dari Ketiak

Belum lagi kehadiran illegal loging yang diindikasikan masih marah terjadi di Pegunungan Meratus, bisa menyebakan peningkatan ancaman longsor dan banjir bagi wilayah hilir di Hulu Sungai dan pesisir Kalimantan Selatan.

Kesiapsiagaan petugas BPBD tentu harus turut melibatkan warga yang wilayahnya rawan bencana banjir dan tanah longsor. Agar mereka juga bisa mengantisipasi apabila bencana tersebut benar terjadi, demi meminimaliasi dampak musibah tersebut. (*)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved