Tajuk

Aksi Gaduh Buzzer

Mungkin saja Brian Acton dan Jan Kouman saat menciptakan WA pada 2009 lalu tidak membayangkan adanya dampak lain dari penggunaan aplikasi tersebut.

Aksi Gaduh Buzzer
KompasTekno
Layanan media sosial yang dimiliki Mark Zuckerberg yaitu Instagram, WhatsApp, dan Facebook. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Mungkin saja Brian Acton dan Jan Kouman saat menciptakan WA pada 2009 lalu tidak membayangkan adanya dampak lain dari penggunaan aplikasi tersebut. Mereka mungkin tidak mengira, WA mampu mempengaruhi orang lain, bahkan secara masif, untuk melakukan sesuatu secara nyata. Tidak terbatas di dunia maya.

Mereka juga bisa jadi tak menyangka, interaksi melalui fitur grup di WA, dapat memunculkan efek mengerikan. Akanlah bermanfaat bila dampak itu mampu menggerakkan orang atau suatu kelompok untuk berbuat baik.

Tentu akan sebaliknya, jika yang terjadi adalah efek negatif karena menyebarnya berita bohong (hoaks), provokasi, ujaran kebencian atau fitnah secara cepat. Mereka pasti tidak mengharapkan itu terjadi.

Hal serupa dialami Mark Zuckerberg yang tak membayangkan ciptaannya, Facebook menjadi salah satu media sosial yang digunakan untuk menyebarkan konten jahat untuk menyerang orang atau kelompok lain.

Dalam perkembangannya, banyak yang menggunakan Twitter dengan tujuan negatif. Seperti halnya Facebook dan WA, ada yang memproduksi hoaks, fitnah dan provokasi melalui Twitter.

Kondisi ini diperparah oleh ulah para buzzer atau kelompok pendengung. Para buzzer –yang sebagian ditengarai dibayar-- mulai menyita perhatian menjelang Pemilu 2019, terutama Pemilu Presiden (Pilpres). Masa kampanye yang panjang, sekitar tujuh bulan, menjadi ladang subur bagi para buzzer guna menciptakan kegaduhan demi kegaduhan melalui posting-an di medsos.

Tragisnya, setelah pemilu berakhir, kerja buzzer belum selesai. Mereka tetap membikin kegaduhan di dunia maya yang dampaknya sangat terasa di dunia nyata.Tak hanya dari kubu “oposisi” tetapi juga dari kelompok pendukung pemerintah.

Banyak kekisruhan, kekacauan, atau kegaduhan yang dipicu dari konten di medsos, terlebih yang sudah diolah oleh kelompok pemproduksi hoaks beserta para buzzernya.

Seruan agar para buzzer menghentikan aksinya dilontarkan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Bahkan secara tidak langsung dia juga menyentil para buzzer kubu pemerintah. Moeldoko menegaskan, yang diperlukan saat ini adalah dukungan politik yang membangun, bukan yang bersifat destruktif karena justru bisa merugikan pemerintah, terutama Presiden Jokowi.

Imbauan dan seruan agar para pengguna medsos bisa menahan diri dan bersikap hati-hati, sudah bertebaran. Sanksi yang diatur dalam Undang Undang Informasi dan Teknologi Elektronik (UU ITE) pun sudah diberlakukan, --meski ada yang menilai masih tebang pilih. Namun, hingga kini, kondisi yang bisa memecah belah bangsa tersebut masih saja terjadi.

Medsos bisa diibaratkan gelas. Bentuknya tetap meski isinya berbeda. Wadahnya tidak berubah meski diisi “madu” atau “racun”. Karena itu, medsos tidak bisa dikatakan bersalah. Acton, Kouman, Zuckerberg dan Dorsey bukanlah pencipta ujaran kebencian, hoaks, fitnah, provokasi negatif atau kejahatan cyber lain.

Racunnya adalah mereka yang membikin, mendengungkan, dan menyebarkan konten jahat di medsos. Merekalah yang harus bertanggung jawab! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved