Breaking News:

Berita Banjarmasin

Kematian Massal Ikan Petani Jala Apung di Banua Anyar, Berikut Penjelasan DKP3 Kota Banjarmasin

Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin langsung turun ke lapangan menyikapi kematian massal ikan petani di Banua Anya

Banjarmasinpost.co.id/Ahmad Rizki Abdul Gani
Penyuluh Perikanan Banua Anyar yang menunjukkan sampel air sungai Martapura usai diambilnya. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Menindaklanjuti laporan banyaknya ikan yang mati mendera petani jala apung di Kelurahan Banua Anyar Kecamatan Banjarmasin Timur Kalsel, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin langsung turun ke lapangan, Senin (7/10/2019) siang tadi.

Didampingi beberapa penyuluh perikanan di Kecamatan Banjarmasin Timur, selain nampak berkeliling memantau sejumlah ikan mati yang masih dibiarkan di jala apung, mereka juga terlihat mengambil sampel air di kawasan tersebut.

Kabid Perikanan DKP3 Kota Banjarmasin, Ir Rudiani menjelaskan kematian massal ikan diduga karena kian buruknya kualitas air pasca memasuki musim kemarau yang cukup panjang.

Meski sempat dilanda hujan yang sebelumnya juga digadang-gadangkan bisa menurunkan intrusi air laut, namun datangnya hujan justru menjadi petaka bagi petani jala apung.

Baca: Gowes Tour De Loksado 2019, Peserta Bakal Dihadang Tanjakan Ajung Tabalik

Baca: Akhirnya Duduk di Bangku Cadangan Barito Putera, Rajiv Bersyukur dan Bersabar Tunggu Debut di Liga 1

Baca: Aksi Pepet Raffi Ahmad pada Angela Lee Disorot Saat Suami Nagita Digosipkan Asisten Nia Ramadhani

Baca: Penyebab Kematian Bayi Ammar Zoni dan Irish Bella Juga Pernah Dialami Marissa Nasution

Pasalnya, belum optimalnya hujan yang mengguyur secara merata dan berkesinambungan di wilayah hulu beberapa hari tadi, justru dituding membawa limbah, baik pertambangan, perkebunan dan pertanian.

Sehingga kondisi tersebut kemudian membuat kualitas air sungai Martapura yang semula telah terkontaminasi tinggi oleh intrusi air laut, malah semakin terkontaminasi dengan datangnya polusi tersebut.

" Jadi intinya penyebab kematian ikan massal ini adalah jeleknya kualitas air saat ini, yang diantaranya diakibatkan beberapa faktor tadi," jelas Rudiani.

Ia juga mengatakan sebetulnya telah sering berkunjung ke tengah petani jala apung di Kelurahan Banua Anyar bersama penyuluh perikanan.

Bahkan tidak hanya berkunjung serta mengawasi, melainkan salah satu aksi yang cukup penting pihaknya lakukan setiap turun ke lapangan adalah memberikan penyuluhan terkait pola dan teknis yang benar dalam membudidayakan ikan di jala apung.

Terutama ketika memasuki kemarau, buruknya kualitas air yang kerap terjadi sehingga pihaknya pun sering menyampaikan agar lebih selektif memilih jenis ikan bila ingin menebar benih ikan. Tapi sebaliknya jika tidak, agar disarankan untuk menahan diri saja sementara waktu.

Halaman
123
Penulis: Ahmad Rizky Abdul Gani
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved