Berita Banjarmasin

Hindari Kematian Massal, DKP3 Kota Banjarmasin Sarankan Petani Budidaya Lele dan Patin

Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin menyarankan petani ikan di Banua Anyar membudidayakan lele dan patin

Hindari Kematian Massal, DKP3 Kota Banjarmasin Sarankan Petani Budidaya Lele dan Patin
BPost Cetak
Ikan Petani Keramba di Banua Anyar Mati Massal, Masrani Rugi Rp 62 Juta 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Menindaklanjuti laporan banyaknya ikan yang mati di jala apung petani di Kelurahan Banua Anyar Kecamatan Banjarmasin Timur, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin turun ke lapangan, Senin (7/10/2019) siang.

Beberapa penyuluh perikanan di Banjarmasin Timur berkeliling mengamati ikan mati yang masih dibiarkan di keramba. Mereka juga terlihat mengambil sampel air.

Kabid Perikanan DKP3 Banjarmasin, Ir Rudiani, menjelaskan kematian massal ikan diduga karena kian buruknya kualitas air Sungai Martapura akibat musim kemarau yang panjang.

Hujan beberapa hari terakhir, yang diharapkan menurunkan intrusi air laut, ternyata justru menjadi petaka bagi petani jala apung. Pasalnya, belum merata dan berkesinambungannya hujan di wilayah hulu, diduga justru membawa limbah, baik pertambangan, perkebunan dan pertanian.

Akibatnya kondisi air sungai yang telah terkontaminasi air laut semakin parah akibat datangnya polusi tersebut.

Baca: Ditetapkan Tersangka, Bupati Balangan H Ansharuddin Laporkan Polda ke Mabes Polri

Baca: Pemisahan Pelajaran PPKn Tuai Prokontra, Begini Tanggapan Pelajar di Kalsel

Baca: Ikan Petani Keramba di Banua Anyar Mati Massal, Masrani Rugi Rp 62 Juta

Baca: Kenali Twin to Twin Transfusion Syndrome (TTTS) yang Bikin Bayi Irish Bella & Ammar Zoni Meninggal

Rudiani mengaku pihaknya sering berkunjung ke petani jala apung di Banua Anyar. Mereka pun memberikan penyuluhan terkait pola dan teknis yang benar dalam membudidayakan ikan di jala apung. Termasuk ketika memasuki kemarau.

Mengingat kerap buruknya kualitas air, pihaknya sering menyampaikan agar petani lebih selektif memilih jenis benih ikan yang ditebar. “Misalnya yang cukup tahan dengan kondisi kualitas air masa seperti ini adalah patin dan lele. Sedangkan bawal dan nila, kita sudah melihat sendiri hasilnya. Ikan tersebut tidak tahan dengan kondisi air seperti ini,” jelasnya.

Penyuluh perikanan Banjarmasin Timur, Khairunnisa, menaksir total kematian ikan yang terjadi di Banua Anyar mencapai 10 ton. Ini meliputi 57 pembudidaya. Kejadian ini, menurutnya, terparah dibanding kemarau tahun-tahun sebelumnya.

Khairunnisa menjelaskan saat diteliti kadar CO2 atau karbondioksida di perairan Banua Anyar mencapai 11 milligram perliternya. Padahal normalnya 3-5 miligram perliter. Di atas itu ikan lokal sulit bertahan.

Untuk itu, ke depan Khairunnisa mengatakan pihaknya akan lebih intensif lagi melakukan penyuluhan dan pembinaan terhadapnya pembudidaya ikan jala apung di Kelurahan Banua Anyar.

Baca: Sambut TMMD Ke-106 Kodim 1001/Amuntai-Balangan, Diyasa Lebih Mudah Keluar Dusun

Baca: Singgung Soal Nafsu, Identitas Pria di Video Syur Bebby Fey Terungkap, Benarkah Atta Halilintar?

Baca: Lawan Martapura FC di Stadion Demang Lehman Sore Ini, PSIM Tidak Pasang Target Muluk

Terutama terkait penataan jala apung yang terbilang cukup rapat dilakukan sejumlah pembudidaya sehingga kondisi ini membuat oksigen di dalam air atau keramba pun rendah.

Selain itu tingginya kepadatan ikan yang diisi dalam satu keramba atau mencapai 1.500 ekor, sehingga ini juga harus diperhatikan serta yang terakhir, pemberian pakan, agar tidak dilakukan secara berlebihan.

“Karena kalau berlebihan, ini justru akan menjadi limbah pada ikan-ikan di sekitar jala apung sendiri yang kemudian berujung mati,” jelasnya. (banjarmasinpost.co.id/ahmad rizky abdul ghani)

Penulis: Ahmad Rizky Abdul Gani
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved