BPost Cetak

Ikan Petani Keramba di Banua Anyar Mati Massal, Masrani Rugi Rp 62 Juta

Petani jala apung di Banua Anyar sedih, ribuan ikan yang mereka budidayakan mati

Ikan Petani Keramba di Banua Anyar Mati Massal, Masrani Rugi Rp 62 Juta
BPost Cetak
Ikan Petani Keramba di Banua Anyar Mati Massal, Masrani Rugi Rp 62 Juta 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Menggunakan jaring berbuluh panjang, satu per satu ikan mati dia tangguk dan masukkan ke dalam baskom.

“Tetap dijual cuma harganya sangat murah yakni sekitar Rp 3.500 per kilogram. Padahal hidupnya sekitar Rp 19.000 ribu,” kata Anang Masrani, Senin (7/10).

Kematian massal ikan menimpa petani jaring apung di Kelurahan Banua Anyar Kecamatan Banjarmasin Timur Kota Banjarmasin sejak Kamis (3/10).

Kemarin, puluhan gurami atau kalui Masrani mengapung di beberapa jaring. Secara keseluruhan sudah lebih dari empat ton ikannya mati dari 32 keramba.

Kondisi ini lebih parah bila dibanding musim kemarau beberapa tahun terakhir. “Kalau tahun lalu masih sekitar satu ton. Tapi tahun ini paling parah. Sabtu, empat ton ikan mati dan harus diangkat,” ujarnya.

Baca: Sambut TMMD Ke-106 Kodim 1001/Amuntai-Balangan, Diyasa Lebih Mudah Keluar Dusun

Baca: Si Palui: Taumpat Walut

Baca: Lawan Martapura FC di Stadion Demang Lehman Sore Ini, PSIM Tidak Pasang Target Muluk

Baca: Stress Syahrini Diusir di Sands Theatre Singapura, Istri Reino Barack Blak-blakan Cerita Sebenarnya

Padahal untuk memelihara ikannya, Masrani mengaku harus mengeluarkan modal untuk membeli pakan sekitar Rp 15 juta setiap bulan. Ini berlangsung selama enam bulan. Artinya untuk pakan dia harus mengeluarkan Rp 90 juta untuk seluruh ikannya hingga panen.

Sayangnya banyak ikan Masrani yang mati. Total kerugian akibat kematian massal ini sekitar Rp 62 juta. Itu berasal dari kerugian perkilogramnya yakni sekitar Rp 15.500 dikalikan empat ton. Ini belum termasuk rugi tenaga dan waktu.

Masrani menduga kematian massal ikan di jala apungnya dan petani lain di daerah tersebut akibat kualitas air Sungai Martapura yang buruk. Tingginya intrusi air laut serta hujan pada Kamis dan Sabtu lalu membuat kondisi air berubah drastis.

Pemilik jala lainnya, Azmi, sangat berharap pemerintah kota memberikan bantuan berupa bibit ikan. Hal itu agar saat masa kritis lewat, mereka bisa memulai lagi usaha jala apung.

“Kalau ada bantuan berupa bibit, kami sangat berharap dan senang. Tapi kalau memang tidak ada, ya apa boleh buat. Mungkin ala kadarnya,” ujar pria paruh baya ini.

Halaman
12
Penulis: Ahmad Rizky Abdul Gani
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved