Berita Banjar

Kewarganegaraan dan Pancasila Diwacanakan Dipisah, Begini Respons Ketua OSIS SMKN 1 Martapura

Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMKN 1 Martapura Muhammad Aditya Rahman setuju jika pelajaran pancasila dan pkn dipisah

Kewarganegaraan dan Pancasila Diwacanakan Dipisah, Begini Respons Ketua OSIS SMKN 1 Martapura
istimewa
Muhammad Aditya Rahman, ketua OSIS SMKN 1 Martapura 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy memisahkan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Pancasila pada tahun ajaran 2020 direspon positif kalangan pelajar di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel).

Apalagi pemisahan dua mata pelajaran tersebut bertujuan menguatkan pendalaman subtansi wawasan dua hal tersebut.

"Saya sangat setuju rencana tersebut karena menurut saya sistem pembelajaran saat ini kurang efektif," ucap Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMKN 1 Martapura Muhammad Aditya Rahman, Selasa (08/10/2019).

Siswa keelas XII Jurusan Multimedia ini menuturkan kurang efektifnya sistem pembelajaran terhadap mata pelajaran Kewarganegaraan dan Pancasila terlihat dari minimnya pengetahuan dan minat siswa pada dua bidang tersebut.

Penggabungan mata pelajaran Kewarganegaraan dan Pancasila yang ada selama ini, sebutnya, mungkin saja masih sesuai diterapkan saat ini. "Tapi dalam hal eksekusi, saya masih melihat kekurangan sehingga harus dilakukan peningkatan agar sistem pembelajaran lebih efisien," tandasnya.

Baca: Atasi Serangan Tunggro, Petani di Batola Bangun Taman Refugia di Sela-sela Tanaman Padi

Baca: Foto Aurel Hermansyah & Teuku Rassya Dibagi Tamara Bleszynski, Wajah Putri Sambung Ashanty Disorot

Baca: Wakil Kalsel di Event Batu Shining Orchid Week 2019, Display Anggrek DPC PAI Balangan Raih Terbaik 2

Baca: Dapur Umum dan Layanan Kesehatan ACT Terus Bantu Korban Gempa Ambon

Dikatakannya, penggabungan mata pelajaran Kewarganegaraan dan Pancasila selama ini kerap menyulitkan siswa dalam memahami atau memaknai.

"Seperti cara menanggapi suatu permasalahan dalam masyarakat yang berkaitan dengan pengaplikasian pancasila dalam bernegara," sebut Aditya.

Hal itulah yang menurutnya memang perlu ditingkatkan dalam hal sistem pembelajaran, khususnya pendidikan Kewarganegaraan dan Pancasila. Melalui pemisahan kedua mata pelajaran ini maka siswa dapat lebih fokus dan bisa langsung mempraktikkan hal-hal yang dipelajari.

Guna menguatkan kualitas, ia menyarankan sistem pembelajaran bisa lebih efisien dalam hal teori maupun pengaplikasiannya. Pasalnya, yang terjadi selama ini kadang siswa terlalu fokus terhadap teori namun tidak bisa melaksanakannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Baca: Menang Undian Simpeda Nasional, ASN Asal HSS Terima Rp 50 Juta dari Bank Kalsel

Baca: Satu Kesalahan Fatal Luna Maya Saat Pacaran Bikin Gagal Nikah, Termasuk Ariel NOAH & Reino Barack

Baca: Penampakan Wajah Bayi Kembar Irish Bella & Ammar Zoni Sebelum Meninggal Dunia, Hidungnya Disorot

"Selain itu harapan saya agar porsi pembelajaran bisa dikurangi, namun lebih intensif lagi, Menurut saya sistem pembelajaran yang sedikit namun sering dilaksanakan lebih efektif ketimbang pembelajaran yang lama namun membosankan," sebut Aditya.

Ia berpendapat sistem pembelajaran fullday selama sembilan jam sehari cukup berat dijalani. "Di sekolahan kami juga fullday. Kalau menurut saya idealnya cukup enam atau tujuh jam sehari," cetusnya.

(banjarmasinpost.co.id/roy)

Penulis: Idda Royani
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved