Tradisi Batajak Rumah Masyarakat Banjar

Begini Tata Cara Membangun Rumah Supaya Berkah, Begini Paparan Ustadz dari Banjarmasin

Dalam membangun rumah, ada sejumlah tradisi dalam masyarakat Banjar atau Kalimantan Selatan.

Begini Tata Cara Membangun Rumah Supaya Berkah, Begini Paparan Ustadz dari Banjarmasin
banjarmasinpost.co.id/salmah saurin
Ustadz Suriani dari Banjarmasin. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Dalam membangun rumah, ada sejumlah tradisi dalam masyarakat Banjar atau Kalimantan Selatan. Harapannya rumah yang dibangun itu memberikan dampak baik bagi penghuni maupun yang menginap.

Ustadz Suriani dari Banjarmasin, menyampaikan bahwa nikmat Allah yang Maha Rahman dan Rahim kepada mahluknya sungguh tiada terbatas banyaknya.

Firman-Nya; " Wain tu'ddu ni'matallaahi laa tuhshuuha," yang artinya; "Jika sekiranya kamu menghitung-hitung niknat yang diberikan-Nya niscaya kamu tidak dapat menghitungnya."

Salah satu nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita adalah mempunyai rumah tanpa memandang ukuran dan bentuknya. Itu adalah rezeki yang patut disyukuri. Karena banyak saudara-saudara dan orang-orang sekitar kita yang belum mempunyai tempat tinggal.

Baca: WOW! Sampai-sampai Intan Ditanam di Empat Penjuru, Begini Adat di Kalsel Bangun Rumah

Baca: Katupat Digantung di Empat Penjuru saat Warga Kalsel Membangun Rumah, Ini Perhitungannya

Baca: Kebiasaan Adat di Kalsel Bangun Rumah, Bila Serba Puga (Baru) Maka Selamatan Ganal (Besar)

"Patut juga kita perhatikan secara mendalam, bahwa saat kita diberi rezeki berupa rumah, hendaknya rumah yang kita tempati itu bukan hanya tempat bernaung, tapi juga membina anak isteri dan dilimpahi kesejehteraan bagi masa depan kita dan anak-anak," ujarnya.

Lanjut Suriani, insya Allah harapan yang baik itu dapat tercapai jika kita menerapkan syariat agama sebelum kita membangun rumah.

"Jika kita membeli sebidang tanah, perhatikan dengan teliti dan seksama apakah tanah itu benar milik sah si penjual. Sebab zaman sekarang tidak sedikit kasus tumpang tindih kepemilikan. Maka kita harus melihat bukti fisik kepemilikan, yaitu segel dan lebih kuat lagi sertifikat tanah," pesannya.

Berbeda halnya kalau tanah hibah resmi atau warisan orangtua kita tidaklah menjadi masalah. Artinya warisan yang sudah dibagi sesuai hukum faraidh kepada kita selalu ahli waris.

"Usahakan tanah yang kita beli berada di lingkungan orang-orang yang agamis dan seakidah dengan kita. Rasulullah mengajarkan, kenalilah lingkungan, siapa-siapa calon jiran tetangga. Misal jiran adalah orang-orang yang bisa membuat kita lupa dan menjauhkan diri kita dan keluarga jauh dari Rabb, maka lebih baik tidak usah membangun rumah di wilayah tersebut," ingat Suriani.

Juga harus diperhatikan adalah membeli bahan dan perlengkapan membangun rumah disertai aqad jual beli berdasarkan hukum fiqh Islam. Contoh, "saya beli kayu-kayu ini seharga Rp100 ribu."

Halaman
12
Penulis: Salmah
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved