Berita Banjarmasin

Ikan Mati di Sungai Banua Anyar Banjarmasin, Kebanyakan Pakan Menambah Buruk Kualitas Air

Ikan di Sungai Banua Anyar Banjarmasin Mati, Kebanyakan Pakan Tambah Buruk Kualitas Air

Ikan Mati di Sungai Banua Anyar Banjarmasin, Kebanyakan Pakan Menambah Buruk Kualitas Air
banjarmasinpost.co.id/ahmad rizky abdul gani
Kepala DLH dan DKP3 Kota Banjarmasin saat meninjau kondisi air di Sungai Martapura Kelurahan Banua Anyar Kecamatan Banjarmasin Timur yang diduga tercemar, Rabu (9/102.019). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kematian massal sejumlah ikan yang menimpa petani jaring apung di Kelurahan Banua Anyar Kecamatan Banjarmasin Timur Kalsel baru-baru ini, menyita perhatian dua dinas di Pemko Banjarmasin untuk melakukan pengecekan.

Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin Rabu (9/10/2019) memantau keberadaan jala apung dan melainkan juga melihat langsung kondisi air sungai.

Keduanya meyakini kematian massal ikan milik petambak di Banua Anyar Kecamatan Banjarmasin Timur disebabkan jeleknya kualitas air.

Apalagi banyaknya pakan masih tersisa di dalam jala apung sehingga menambah buruk kualitas air yang memang sedang terintrusi tinggi air laut.

Baca: Tak Semua Dewan Temui Aksi Massa Usai Pelantikan, ini Tuntutan Mahasiswa

Baca: Tips Agar Lolos Tes Administrasi Jelang Pendaftaran CPNS 2019 di sscn.bkn.go.id, Cek Ulang Mekanisme

Baca: Air Mata Ruben Onsu Menetes Gara-gara Kelakuan Betrand Peto, Curhat pada Ayu Ting Ting & Wendy Cagur

Baca: Ulah Nikita Mirzani Makan Korban Lagi, KPI Hentikan Pagi Pagi Pasti Happy Susul Hotman Paris Show

Baca: Heboh Video Syur Bebby Fey, Seteru Atta Halilintar Ngaku Ketagihan Ditiduri Genderowo, Ini Sebabnya

"Mestinya kan ini tidak boleh. Karena, dari tidak semua pakan termakan itulah justru menjadi limbah bagi kondisi air di sekitar keramba," jelas Kepala DKP3 Kota Banjarmasin Lauhem Mahfuzi.

Kepala DKP3 Kota Banjarmasin tersebut juga mengatakan, tidak kalah penting menjadi perhatian bagi para pembudidaya ikan di Banua Anyar adalah kapasitas tampung perjala apung.

Bila semakin padat jumlah ikan yang diisi di setiap keramba, maka akan semakin kecil juga oksigen yang larut pada jala apung tersebut.

"Kalau bicara standarnya, per keramba efektifnya hanya boleh diisi 500 ekor. Kalau lebih kan, justru oksigen yang terlarut pun sedikit sehingga kemudian menyebabkan ikan mati," jelasnya.

Apalagi di tengah kondisi kemarau saat ini, Lauhem mengatakan berdasarkan pengambilan sampel pihaknya di lokasi tersebut dissolved oxygen (DO) yang terlarut mencapai 2 mili gram.

Kondisi ini sangat jauh bila dibanding dengan kebutuhan normal jenis ikan bawal yang memerlukan oksigen tinggi atau DO di atas 4 milligram.

Halaman
12
Penulis: Ahmad Rizky Abdul Gani
Editor: Royan Naimi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved