Tradisi Batajak Rumah Masyarakat Banjar

Katupat Digantung di Empat Penjuru saat Warga Kalsel Membangun Rumah, Ini Perhitungannya

Tiang adalah bagian penting dalam menopang bangunan. Dalam tradisi batajak (membangun) rumah di kalangan masyarakat suku Banjar

Katupat Digantung di Empat Penjuru saat Warga Kalsel Membangun Rumah, Ini Perhitungannya
banjarmasinpost.co.id/salmah saurin
Gantungan urung ketupat dan beberapa hiasan yang dibuat dari daun enau atau daun kelapa. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Tiang adalah bagian penting dalam menopang bangunan. Dalam tradisi batajak (membangun) rumah di kalangan masyarakat suku Banjar atau Kalimantan Selatan biasanya ada prosesi tertentu pemancangan tiang agar rumah nantinya mendatangkan berkah.

Terutama tiang penjuru yang berada di tiap sudut bangunan. Saat menegakkan tiang penjuru maka jumlahnya selalu genap, yaitu 4, 6, 8, 10 atau lebih.

Ilham, warga Sungai Rancah, Kota Banjarbaru mengatakan, memancang tiang adalah dianggap suatu kegiatan yang penting saat selamatan membangun rumah.

"Bahkan bagi sebagian orang, waktunya hari apa dan jam berapa memancang juga ditentukan dengan cermat. Ada perhitungannya. Namun adapula orang yang tidak begitu," jelasnya.

Baca: Kebiasaan Adat di Kalsel Bangun Rumah, Bila Serba Puga (Baru) Maka Selamatan Ganal (Besar)

Baca: Tradisi Turun Temurun Batajak Rumah, Pastikan Lokasi Aman dari Mahluk Halus

Baca: Raffi Ahmad Juga Raba Artis ini di Depan Nagita Slavina Sebelum Video Angela Lee Beredar

Setelah tiang-tiang dipancang, biasanya pada bagian atas tiang tersebut (setiap penjuru) diikatkan rangkaian urung ketupat dan beberapa hiasan yang dibuat dari daun enau atau daun kelapa muda.

"Setelah acara selamatan selesai, tiang digoyang supaya ketupatnya jatuh dan akan diperebutkan oleh anak-anak, karena ketupatnya bisa dimakan," seloroh Ilham.

Namun adapula orang yang menggantung ketupat sebagai simbol saja. Jadi bukan ketupat masak melainkan hanya berupa urung atau jalinan daun kelapa pembungkus isi ketupat. Jenis ini akan dibiarkan menggantung hingga beberapa hari kemudian sampai mengering.

Mukhlis Maman, Budayawan Banjar, mengatakan, menggantung ketupat atau janur merupakan adat istiadat yang menjadi syarat membangun rumah.

"Sudah menjadi kebiasaan di sebagian masyarakat yang akhirnya menjadi tradisi turun-temurun dan ini masih terjaga di perdesaan," ungkapnya.

Adapun filosofinya bahwa nantinya setelah rumah selesai dibangun dan ditempati maka akan selalu ada keluarga atau kerabat yang berkunjung. Artinya rumah itu penuh suasana silaturahmi.

Selain itu, sebenarnya tak hanya ketupat yang digantung di tiang tapi juga ada batu mulia yang biasa jadi perhiasan ditanam di empat penjuru rumah. Seperti apa itu? Lanjut simak tulisan berikutnya.

(banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)

Penulis: Salmah
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved