Berita Kesehatan

WADUH! Kesepian Ternyata Picu Kematian, Fakanya Menurut Dirut RSJ Sambang Lihum

Kamis (10/10) ini merupakan Hari Kesehatan Jiwa Dunia atau World Mental Health Day. Banyak makna yang dapat dipetik dari peringatan setiap tanggal 10

WADUH! Kesepian Ternyata Picu Kematian, Fakanya Menurut Dirut RSJ Sambang Lihum
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

Apakah ada hambatan atau kendala yang dihadapi?

Tentu ada, bahkan banyak. Contohnya kami sangat kekurangan tenaga medis, kami tak punya spesialis konsultan, psikolog kurang, perawat spesialis jiwa belum ada, dokter umum juga kurang. Tenaga lainnya yang juga tak ada yaitu IT, elektromedik, spesialis anak, rehab medik, dan patologi klinik. Tapi sejauh ini pelayanan masih dapat kami berikan secara baik, sebagian tenaga medis kami meminjam dari rumah sakit lain.

Akses menuju RSJ ini juga masih sulit, apakah berdampak?

Ini juga bagian dari hambatan (geografis) yang kami hadapi, jaraknya jauh dari kota dan permukiman, belum ada angkutan umum. Warga yang tak punya kendaraan mesti ngojek dulu yang ongkosnya mahal. Istilahnya, berobat di RSJ Sambang Lihum gratis, tapi biaya transportasinya selangit. Ini yang mesti dipikirkan bersama

Pelayanan mesti didekatkan misal melalui pelatihan bagi tenaga medis di puskesmas sehingga setidaknya tahap awal bisa menangani pasien dengan gangguan jiwa ringan.

Aspek sosial budaya juga masih jadi hambatan, dimana sebagian masyarakat ketika ada keluarganya yang mengalami gangguan jiwa dianggap kena santet atau sejenisnya sehingga tak mau mengantarkan ke RSJ.

Apakah pengidap gangguan jiwa cukup banyak?

Wah, banyak. Berdasar riset kesehatan dasar di Kalsel yang dilakukan Kemenkes, tiap 2.000 penduduk, tiga orang di antaranya mengalami gangguan jiwa berat. Penduduk Kalsel saat ini sekitar 3,8 juta yang artinya ada 4.500 warga Kalsel yang mengalami gangguan jiwa berat.

Katakan lah sepuluh persennya atau 450 orang perlu rawat inap di RSJ. Nah, sekarang pasien jiwa yang rawat ini di sini kan hanya sekitar setengahnya. Jadi, selebihnya gak tahu dimana mereka, apakah keleleran di jalanan atau dipasung keluarganya atau bagaimana.

Lalu, bagaimana solusinya?

Ini masalah kita bersama, tak mungkin hanya dipikulkan di pundak kami. Peran keluarga dan lingkungan juga sangat penting. (banjarmasinpost.co.id/roy)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved