Menguak Kisah Panari Cantik Kalsel

Mampu Himpun Kekuatan Dayak, Putri Dalami Karakter Legenda Pejuang Wanita Ratu Zaleha

Kalimantan Selatan mempunyai seorang wanita tangguh, melawan penjajah di Tanah Banjar bumi Lambung Mangkurat yaitu Ratu Zaleha.

Mampu Himpun Kekuatan Dayak, Putri Dalami Karakter Legenda Pejuang Wanita Ratu Zaleha
Istimewa
Putri Kurnia Pratiwi 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kalimantan Selatan mempunyai seorang wanita tangguh, melawan penjajah di Tanah Banjar bumi Lambung Mangkurat yaitu Ratu Zaleha.

Beliau adalah puteri dari Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari yang gigih berjuang mengusir Belanda dalam Perang Banjar melanjutkan perjuangan kakeknya yaitu Pangeran Antasari yang merupakan Tokoh Pahlawan Nasional.

Ratu Zaleha lahir di Muara Lawung pada tahun 1880 dengan nama lahir Gusti Zaleha. Ia adalah seorang anak bangsawan, tapi sejak kecil sudah merasakan hidup dalam pahit getirnya perjuangan menentang penjajah. Ia ikut ayahnya (Muhammad Seman) berperang dalam gerilya ke sana ke mari.

Ratu Zaleha menikah dengan Gusti Muhammad Arsyad. Mereka berdua berjuang bersama ayah Ratu Zaleha serta wanita-wanita suku Dayak yang sudah memeluk Islam seperti Bulan Jihad atau Wulan Djihad, Illen Masidah dan lain-lain.

Baca: GUNDAH Gulana Hati Gisella Anastasia Dengar Jawaban Polos Gempi, Pikirkan Perasaan Gading dan Wijin

Baca: Korban Baru Nikita Mirzani? Brownis Ayu Ting Ting Dihentikan KPI, Susul P3H & Hotman Paris Show

Baca: LENA dan Anak-anaknya Hidup Menderita, Tinggal di Gubuk Kandang Ayam Setelah Rumah Dijual Mertua

Ratu Zaleha dapat menghimpun kekuatan dari suku-suku Dayak Dusun, Kenyah, Ngaju, Kayan, Siang dan Bakumpai. Suku Banjar bersama seorang wanita pemuka Dayak Kenyah bernama Bulan Jihad seorang perempuan yang sangat pemberani yang selalu bahu-membahu di medan pertempuran.

Putri Kurnia Pratiwi
Putri Kurnia Pratiwi (Istimewa)

Semangat Ratu Zaleha kini dipertunjukkan dalam seni tari. Seperti yang dilakoni Putri kurnia pratiwi, perempuan umur 24 tahun yang tinggal di Banjarbaru ini mengaku dalam memerankan karakter Ratu Zalecha itu tidaklah mudah.

" Biasanya kalau biasanya penonton terhipnotis saat kita menari itu tergantung dari pembawaan kita dan tariannya apa. Menari itu wiraga, wirama, wirasa. Wiraga gerakan badan, wirama menyatukan diri dalam musik, Wirasa bagaima akita mendalami peran kita dalam tarian itu.

Misal, kita menari ratu jalecha , kita harus tahu karakteristik ratu Zalecha itu seperti apa. Bila kita mampubmasuk ke tokoh penari itu. Orang yang melihat pun terkesima dan terhipnotis," kata Mahasiswa seni pertunjukan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini kepada reporter banjarmasinpost.co.di.

Begitu banyak macam seni pertunjukkan lain yang mungkin tingkat kesulitannya tidak serumit tari klasik. Jawabannya adalah filosofi yang terkandung di dalamnya, yakni wiraga, wirama, wirasa. Wiraga adalah dasar wujud lahiriah badan beserta anggota badan yang disertai ketrampilan.

Wirama adalah di mana gerak yang dihasilkan harus selaras dengan irama. Sementara wirasa adalah gerak tidak saja harus sesuai irama, namun harus dilakukan dengan rasa (jiwa). Sebuah tarian akan terlihat indah jika sang penari mampu membawakan tarian dengan memenuhi ketiga unsur tersebut.

"Pembawaan kita sehari biasa ceplas-ceplos Tapi begitu kita saat menari bisa masuk ke tokoh penari itu. Harus bisa mendalami peran sebagai penari. Karakteristik penari dipahami," kata dia.

(banjarmasinpost.co.id/niakurniawan)

Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved