BPJS Kesehatan

Fakta di Lapangan, Ada Peserta Jalur Mandiri Hanya Mau Bayar Iuran BPJS Jika dalam Kondisi Sakit

Kondisi real di lapangan, kata Kepala Cabang BPJS Kesehatan Banjarmasin, Tutus Novita Dewis, bagi peserta jalur mandiri yang tidak mampu bisa

Fakta di Lapangan, Ada Peserta Jalur Mandiri Hanya Mau Bayar Iuran BPJS Jika dalam Kondisi Sakit
BPost Cetak
BPost edisi cetak Minggu (14/10/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kondisi real di lapangan, kata Kepala Cabang BPJS Kesehatan Banjarmasin, Tutus Novita Dewis, bagi peserta jalur mandiri yang tidak mampu bisa dialihkan ke jalur Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang bersumber dari dana APBD, setelah melalui verifikasi dinas sosial.

Fakta di lapangan lainnya, ada anggota BPJS Kesehatan jalur mandiri hanya mau bayar iuran BPJS jika dalam kondisi sakit.

Alasan lainnya, penunggak iuran BPJS jalur mandiri, yakni tidak mampu membayar iuran bulanan BPJS.

“Ada juga yang beralasan punya kartu BPJS jalur mandiri untuk jaga-jaga saja jika sakit. Jadi mereka mau bayar BPJS jika jatuh sakit saja,” ujarnya.

Baca: Segini Total Tunggakan Peserta Jalur Mandiri di BPJS Kesehatan Banjarmasin

Baca: Kejutan Rahasia Ariel NOAH ke Pevita Pearce Saat Ultah? Lakukan Ini Saat Ditanya Soal Eks Luna Maya

Baca: Bernada Sindiran, Bella Saphira Ungkap Ini Usai Pencopotan Dandim Kendari Terkait Penusukan Wiranto

Menurut dia, prinsip dari BPJS Kesehatan itu sistem gotong royong.

Saat anggota BPJS Kesehatan itu sakit, maka dia mendapatkan pelayanan kesehatan dari anggota BPJS lainya yang selama ini membayar iuran BPJS.

“Jadi prinsipnya yang sehat membantu yang sakit dan yang sakit dibantu yang sehat. Itulah prinsip gotong royong dalam BPJS kesehatan,” ujarnya.

Tutus mengharapkan anggota BPJS Kesehatan yang sehat untuk bersyukur karena bisa membayar iuran bulanan meski tidak sakit.

Jika disuruh tukar posisi, orang yang sehat menggantikan yang sakit tentu tidak ada yang mau.

“Sekarang siapa mau, mendapatkan bantuan pembayaran Rp 500 juta untuk cuci darah. Tak keluarkan sepeser pun uang, tapi harus cuci darah per minggu. Siapa yang mau. Pasti semua orang memilih sehat. Meski cuci darah gratis, pasti tidak ada yang mau,” ujarnya.

Seharusnya, kata Tutus, anggota BPJS Kesehatan yang sehat itu bersyukur karena bisa membantu orang lain yang sedang sakit.

“Setiap warga ada risiko sakit. Saat ini sehat, bulan depan bisa sakit dan tidak ada yang tahu kapan sakit, sehingga perlunya BPJS Kesehatan,” ujarnya.

Rutus menjelaskan, keberadaan sanksi pelayanan publik di UU No 24 tahun 2011 dan Perpres No 82 Tahun 2019 itu bukan untuk menekan warga.

Tapi, untuk mengedukasi masyarakat agar sadar pentingnya BPJS Kesehatan.

“Keberadaan regulasi bagi warga yang tidak mau membayar iuran BPJS itu ada sejak lama, tapi selama ini memang belum diterapkan,” ujarnya.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved