Berita Tanahbumbu

Dampak Sungai Satui Tercemar, Nelayan Terpaksa Bekerja Serabutan Menutupi Kebutuhan Hidup

Ratusan nelayan tangkap terdampak tercemarnya sungai Satui, Desa Sungai Danau, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanahbumbu, semakin bingung.

Penulis: Herliansyah | Editor: Eka Dinayanti
istimewa
ikan ditemukan mati saat kejadian tercamarnya air sungai Satui, Desa Sungai Danau, Kecamatan Satui, Tanahbumbu ikan ditemukan mati saat kejadian tercamarnya air sungai Satui, Desa Sungai Danau, Kecamatan Satui, Tanahbumbu 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BATULICIN - Ratusan nelayan tangkap terdampak tercemarnya sungai Satui, Desa Sungai Danau, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanahbumbu, semakin bingung.

Setiap hari harus memikirkan biaya hidup dan sekolah anak, sementara mereka tidak bisa menangkap ikan pasctercemarnya air sungai.

Dari seratusan nelayan, kini sebagian besar mereka hanya bisa berdiam diri.

Cuma ada beberapa yang terpaksa menangkap ikan di muara, sementara beberapa orang harus bekerja serabutan untuk menutupi kebutuhan hidup.

Baca: TERUNGKAP! Lelaki yang Suka Gerayangi Penumpang Wanita di KRL, Ternyata Pegawai Pemkot Jakarta Barat

Baca: Sifat Buruk Rezky Aditya yang Disebut Akan Nikahi Citra Kirana Dibongkar sang Mantan, Patricia Razer

Baca: Sebab Sakit Leukimia Putri Denada, Shakira Aurum Diungkap Ustadz Danu, Raffi Ahmad & Nagita Bereaksi

Arbani misalnya, pascatercemarnya sungai Satui, Ia lebih banyak berdiam di rumah, dengan kondisi ekonomi seadanya.

Ia tidak sanggup bekerja, apalagi buruh serabutan karena kondisi tubuhnya.

"Aku kerja yang agak berat tidak bisa juga, bekas operasi usus," ucap Arbani yang juga Ketua Kelompok Nelayan Angkasa 01, Desa Sungai Danau kepada banjarmasinpost.co.id.

Dengan kondisi kesehatan tidak memungkinkannya bekerja menjadi buruh serabutan dan bertahan hidup dalam keadaan seadanya, padahal kebutuhan hidup keluarga harus dicukupi setiap hari.

"Terpaksa seadanya. Harus bagaimana lagi kami. Sambil kerja yang bisa dikerjakan. Kami sangat berharap ada pihak bertanggung jawab," katanya.

Lanjut Arbani, selain mencukupi kebutuhannya, ia juga harus menanggung kebutuhan sehari-hari kelima orang anaknya.

"Hanya aku pribadi saja lima. Masih sekolah tiga orang, satu belum sekolah. Kalau begini apa tidak sakit kepala," terang Arbani.

Maka dari itu, selaku Ketua Kelompok Nelayan yang terimbas langsung dampak tercemarnya sungai yang menjadi sumber penghidupan mereka, berharap ada pihak-pihak yang merasa prihatin dengan kondisi saat ini.

"Mudahan ada pihak-pihak yang merasa kasihan mambantu kami dulu, sementara menunggu hasil yang maksimal," pinta Arbani.

Kepala Dinas Perikanan Tanahbumbu Fauraji Akbar dikonfirmasi terkait nasib nelayan belum bisa berbuat banyak.

Namun menurut Fauraji, pihaknya akan membuat program untuk jangka panjang ke depan bagi mereka.

"Nanti melalui penyuluh kami akan mengumpulkan dan menyerap aspirasi mereka," kata Fauraji.

Untuk program jangka panjang, disarankan mereka bisa pindah dari nelayan tangkap ke budidaya ikan keramba dengan memanfaatkan lubang-lubang bekas tambang.

"Di sana kan banyak lubang-lubang bekas tambang. Makanya mau kami kumpulkan dulu, mau mereka seperti apa. Jadi bukan kemauan dinas agar tidak salah. Ini untuk ke depannya," jelas Fauraji.

BANJARMASINPOST.co.id/helriansyah

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved