Tajuk

Perhatikan Sektor Perikanan

Bisa dikatakan, sektor perikanan di Kalsel cukup didera persoalan pada tahun ini. Beberapa waktu lalu, sungai tercemar diduga akibat tambang

Perhatikan Sektor Perikanan
banjarmasinpost.co.id/jumadi
Dampak tingginya gelombang laut, dalam beberapa hari terahir ini, mengakibatkan tak semua kapal nelayan yang sandar di Pelabuhan TPI Banjar Raya, Kecamatan Banjarmasin Barat 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Bisa dikatakan, sektor perikanan di Kalsel cukup didera persoalan pada tahun ini. Beberapa waktu lalu, sungai tercemar diduga akibat tambang di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan juga Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Lalu, nelayan Kabupaten Tanahlaut risau atas kedatangan nelayan bermodal besar dari daerah lain yang ikut mencari di perairan kabupaten setempat. Mereka menyampaikannya ke dinas terkait dan juga DPRD Tanahlaut.

Ketika terjadi persoalan di kawasan hulu sungai, tentu saja usaha mencari ikan tak bisa dilakukan. Selain, warga tak bisa memanfaatkan airnya. Aparat pemerintah kabupaten setempat cepat merespons. Mereka datangi titik lokasi yang diduga menjadi sumber pencemaran.

Sedangkan yang nelayan Kabupaten Tanahlaut, pernah juga terjadi dengan nelayan daerah lain, kalah banyak dalam hal jumlah hasil tangkapan ikannya. Nelayan dari daerah lain, peralatannya modern. Nelayan lokal, hanya jaring kecil.

Berikutnya, baru-baru saja terjadi persoalan, sungai diduga tercemar di Kecamatan Sungaidanau, Kabupaten Tanahbumbu. Ikan mati. Warga tak bisa lagi mencari ikan. Nelayan terhenti usahanya dan terpaksa beralih pekerjaan menjadi tukang bangunan atau buruh atau lainnya. Aparat Pemkab Tanahbumbu sigap turun ke lokasi, menelusuri sungai, mencari penyebab pasti penemaran. Hasilnya, diyakini akibat aktivitas tambang.

Disusul, hari-hari terakhir ini, persoalan berat para petani keramba di Sungai Riam Kanan, Kabupaten Banjar. Ribuan ekor ikan mereka mati. Kerugiannya, tentu saja cukup besar. Seorang petani keramba menyebut angka kerugiannya Rp 150 juta. Itu baru satu orang.

Lalu, apakah persoalan-persoalan itu hanya berhenti sampai di situ? Nelayan tak bisa menangkap ikan, kemudian tidak ada solusi untuk membantu mereka? Pasrah hanya bisa menangkap sedikit ikan. Mereka hanya bisa pasrah beralih pekerjaan sebagai tukang bangunan, buruh atau lainnya. Pasrah rugi ratusan juta rupiah.

Bila ada pejabat hanya mengatakan bahwa warganya sudah terbiasa berhadapan dengan persoalan-persoalan itu, sungguh sangat disayangkan. Seharusnya, ada solusi. Tentang cara supaya usaha mereka tetap bisa berkelanjutan. Tidak terhenti sehingga terpaksa menjadi tukang bangunan. Tidak terhenti atau beralih pekerjaan akibat adanya persoalan dengan nelayan bermodal sangat besar. Tidak terhenti usahanya akibat kemarau.

Bisa kita lihat, sampai sekarang, persoalan serupa selalu muncul berulang-ulang. Jadi, bagi pejabat, janganlah menganggap semua itu sebagai hal yang biasa-biasa saja. Sungguh aneh kalau sampai terjadi, pejabat hanya menjadi penonton di saat warganya tak bisa berusaha. Sementara, para pejabat tersebut, tetap asyik di belakang meja, asyik menikmati rapat-rapat rutin di hotel, asyik pergi ke luar pulau, menikmati suasana luar negeri dan sebagainya. Janganlah seperti itu. Warganya yang menjadi nelayan, menjadi petani keramba, sangat memerlukan bantuan.

Kita tentu tidak berharap, nelayan sampai terpaksa menjual perahu atau kapalnya. Jangan sampai, petani keramba menjual kerambanya. Semoga, tidak terjadi. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved