Fikrah

Menjadi Manusia Cerdas

ALLAH SWT berfirman, Kullu nafsin dzaa’iqatul-mauut, wa nabluukum bisy-syarri wal-khairi fitnatun wa ilainaa turja’uun

Menjadi Manusia Cerdas
blogspot
KH Husin Naparin Lc MA

Oleh: KH Husin Naparin

BANJARMASINPOST.CO.ID - ALLAH SWT berfirman, Kullu nafsin dzaa’iqatul-mauut, wa nabluukum bisy-syarri wal-khairi fitnatun wa ilainaa turja’uun (Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami-lah kamu akan dikembalikan. (QS 21/35).

Dalam menciptakan makhluk, Dia terangkan bahwa, allahulladzii khalaqakum min dha’afin tsumma ja’ala min ba’di dha’afin quwwatan, tsumma ja’ala min ba’di quwwatin dha’fan wa syaibatah ... (Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban ... (QS 30/54).

Manusia beriman sebenarnya harus sadar, mengapa salat fardhu lima waktu diwajibkan Allah SWT, hal ini agar dengan salat itu seorang mukmin merenungi fase-fase kehidupannya di dunia. Subuh sebagai kelahiran, Zuhur sebagai masa dewasa, Asar sebagai masa tua, Magrib sebagai saat kematian, dan Isya sebagai kefanaan diri kembali ke hadirat Tuhan.

Sebagai seorang Muslim, kita harus siap, agar meninggal dalam Islam (Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (QS 3/103).

Nabi SAW memuji seorang mukmin yang banyak mengingat kematian sebagai manusia cerdas. Afdhalul-mu’miniina ahsanuhum khuluqan, wa akyasuhum aktsaruhum lil-mauti dzikran wa ahsanuhum isti’adaadan, ulaa’kal-akyas (Seorang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan orang beriman yang paling cerdas adalah mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapan menghadapi kematian, mereka itu adalah manusia-manusia cerdas. (HR Ibnu Majah dari Ibnu Umar). Aktsiruu dzikra hadzimil-ladzdzaat (perbanyaklah oleh kalian mengingat pemupus kelezdatan (kematian). (HRTirmidzi).

Kematian sesuatu kepastian, wa maa tadrii nafsun biayyi ardhin tamuut (dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. (QS 31/34). Jika anda ingin mengetahui betapa dahsyatnya sakratal-maut, milikilah kitab At-Tadzkirah karya Imam Syamsuddin al-Qurthubi (ada Indonesianya).

Pencabutan nyawa, ada yang dinisbatkan Allah kepada diri-Nya sendiri, wa huwalladzii yatawaffaakum billaili wa ya’lamu maa jarahtum bin-nahaari,tsumma yab’atsukum fiihi liyuqdhaa ajalun mutsammaa tsumma ilahi marji’ukum (Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali ... (QS 6/60).

Ada pula pencabutan yang diserahkan oleh Allah SWT kepada malaikat-Nya, qul yatawaffaakum malakul-mauti allazdii wukkila bikum tsumma ilaa rabbikum turja’uun (Katakanlah, malaikat maut yang diserahi mencabut nyawamu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan. (QS 32 /11).

Ada orang yang dicabut nyawanya dalam keadaan baik oleh para malaikat, alladziina tatawaffaahumul-mala’ikatu thayyibiina yaquuluuna salaamun alaikum udkhulul-jannata bimaa kuntum ta’maluun (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka) salamun alaikum, masuklah kamu ke dalam surga disebabkan apa yang telah kamu kerjakan. (QS 16/32).

Ada yang diwafatkan penuh penderitaan, yaitu mereka yang berdosa, alladziina tatawaffaahumul-malaikatiu zhaalimi anfusihum, fa’alqus-salaam maa kunna na’amalu min suuin, balaa innallaaha aliimun bimaa kuntum ta’amaluun (yaitu) orang-orang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat dosa. Lalu mereka menyerah diri (seraya berkata) “Kami sekali-kali tidak mengerjakan kejahatan,” (Malaikat menjawab), “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kalian kerjakan.” (QS16/28).

Walau taraa idz yatawaffal-ladziina kafaruu yadhribuuna wujuuhahum wa adbaarahum wa dzuuquu ‘adzaabal-hariiq, Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata) “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar.” (tentulah kamu akan merasa ngeri). (QS 8/50).

Fakaifa idzaa tawaffathumul-malaikatu yadhribuuna wujuuhahum wa ‘adbaarahum, Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka? (QS 47/27).

Ibnu Abbas RA memaparkan, dimaksudkan orang-orang kafir dalam ayat ini termasuk orang maksiat, laa yatawaffaa ahadun alaa ma’ashiyatin illaa bidharbin syadiidin li wajhihii wa qafaahu (tidaklah orang-orang maksiat melainkan dipukul dengan keras di muka, ketika mereka menghadap sewaktu dipanggil, dan di belakang sewaktu mereka mau lari. (Tafsir Alqurthubi).

Menurut sebagian ulama, untuk mudahnya sakratal-maut dianjurkan mengamalkan membaca surah Ash-Shaaffaat dan surah Yaasin. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved