Breaking News:

Tingkatkan Kesiapan Hadapi Serangan Bioterror pada Olimpiade Tahun Depan, Jepang Impor Virus Ebola

Pada bulan lalu, Jepang mengimpor Ebola dan empat virus berbahaya lainnya untuk menghadapi ribuan turis internasional yang berkunjung ke Tokyo untuk

net
serangan ebola 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pada bulan lalu, Jepang mengimpor Ebola dan empat virus berbahaya lainnya untuk menghadapi ribuan turis internasional yang berkunjung ke Tokyo untuk Olimpiade tahun depan.

Kementerian Kesehatan Jepang mengatakan, para peneliti menggunakan sampel yang meliputi virus Marburg, virus Lassa dan virus yang menyebabkan demam berdarah di Amerika Selatan dan di Krimea-Kongo untuk memvalidasi tes yang sedang dikembangkan.

Tes tersebut akan menilai apakah pasien dengan salah satu virus tersebut masih bisa menular serta mengukur apakah pasien bisa menghasilkan antibodi untuk menetralisir virus.

Baca: Amankan Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden, TNI Kerahkan Drone dan Pesawat Jenis Boeing

Baca: Mendadak Kaya & Bagi-bagi Mobil Mewah saat Ultah, Terungkap Asal Uang Rp 124 Miliar Milik Bos BNI

Baca: Pernikahan Luna Maya & Ariel NOAH Disebut Sosok Ini Saat Heboh Foto Wanita, Mbak You: 2019 Menikah!

Pengembangan tes ini nantinya akan meningkatkan kesiapan Jepang untuk peristiwa semacam serangan bioterror.

Virus-virus ini juga menandai kali pertama virus yang diberi peringkat biosafety-level-4 (BSL-4), peringkat paling berbahaya, diizinkan untuk memasuki Institut Penyakit Menular Nasional Jepang (NIID), satu-satunya fasilitas negara yang beroperasi pada tingkat tersebut.

Para ilmuwan penyakit menular memang telah mengatakan bahwa risiko wabah selama olimpiade berlangsung tidak jauh lebih tinggi dibandingkan waktu lainnya.

Elke Mühlberger, seorang ahli mikrobiologi di Boston University, misalnya, berpendapat bahwa wabah besar ebola di Olimpiade tidak mungkin terjadi karena infeksinya tidak ditularkan melalui udara.

Namun, rencana Jepang untuk menilai tes NIID sebelum Olimpiade dimulai masuk akal, mengingat Ebola sekarang sedang mewabah di Republik Demokratik Kongo.

Selain itu, komunitas ilmu medis Jepang juga menyambut dengan baik langkah ini.

Menurut mereka, momen ini akan meningkatkan kapasitas negara dalam menangani penyakit menular secara umum.

Halaman
12
Editor: Eka Dinayanti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved