Lifestyle

Berasal Dari Anak Kolong, Ternyata Sekda Banjar Awalnya Bercita-cita Jadi Pengusaha

Sekda Banjar HM Hilman ternyata awalnya bercita-cita ingin jadi pengusaha. Ternyata, takdir membawanya menjadi abdi negara

Berasal Dari Anak Kolong, Ternyata Sekda Banjar Awalnya Bercita-cita Jadi Pengusaha
istimewa
Sekda Banjar H M Hilman 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pria ramah yang murah senyum ini awalnya bercita-cita ingin jadi pengusaha, namun perjalanan hidup membawanya menjadi abdi negara. Meski demikian takdir itu ia jalani dan kesuksesan karir pun ia dapatkan.

Bagi Hilman, ia beruntung punya orangtua yang mampu mendidiknya sehingga dalam serba keterbatasan materi ia masih bisa menikmati pendidikan yang tinggi. Itulah modalnya dalam kehidupan.

Bagaimana perjalanan hidup ayah tiga anak yang kini menjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Banjarmasin ini. Mari simak wawancara dengannya

Bisa diceritakan masa kecil Anda?

Saya lahir dan menghabiskan masa anak-anak di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Ayah saya bekerja sebagai tentara dan ibu adalah guru.

Sebagai anak kolong (sebutan untuk anak tentara zaman itu) saya terbiasa dengan kehidupan keluarga yang disiplin dan penuh aturan.

Baca: Hasil Piala AFF Futsal 2019, Indonesia vs Malaysia, Bambang Bayu Cs Menang, Skor Akhir 3-2

Baca: Gerebek Rumah di Tanahbambu, Polisi Sita Ekstasi dan Sabu

Baca: Aib Rezky Aditya Dibocorkan Patricia Razer Sang Mantan Kekasih, Reaksi Ibu Citra Kirana Disorot

Baca: Timnas U-23 Indonesia di Grup Berat, Bersama Thailand dan Vietnam, Indra Sjafri: Alhamdulillah

Orangtua menyampaikan, demi meraih masa depan yang baik maka apapun dipenuhi untuk pendidikan terbaik. Sebab mereka tidak bisa meninggalkan warisan harta tapi hanya ilmu melalui pendidikan.

Kelas 1 sampai 3 SD saya sekolah di tempat ibu mengajar. Kemudian kelas 4 SD sampai SMP dipindahkan ke sekolah swasta yang yang menurut orangtua berkualitas pendidikannya. Soal biaya, di situ ada subsidi silang sehingga anak tak mampu tersubsidi oleh anak yang mampu membayar SPP.

Sekolah itu menerapkan disiplin luar biasa. Pagi sampai pulang sekolah semua dengan aturan ketat. Tapi memang membuat kami jadi taat aturan.

Lulus SMP, kemudian masuk SMA umum. Di situ saya mengalami suasana yang berbeda. Ada kebebasan jika dibandingkan saat SD dan SMP. Syukurnya bekal pendidikan sebelumnya telah membentuk karakter, sehingga meski perlu waktu beradaptasi namun tidak terpengaruh hal-hal negatif.

Halaman
1234
Penulis: Salmah
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved