Berita Kabupaten Banjar

Petani Bakar Jerami karena Tujuan ini, Profesor Acep Beri Solusi Begini

Kebakaran lahan dan hutan di negeri ini, termasuk di Pulau Kalimantan, tak semuanya disebabkan faktor alam.

Tayang:
Penulis: BL Roynalendra N | Editor: Eka Dinayanti
banjarmasinpost.co.id/roy
Prof Acep Akbar memaparkan pola kebakaran dan solusi mengatasinya pada rakor Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan yang digelar Dinad LH Banjar, kemarin 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Kebakaran lahan dan hutan di negeri ini, termasuk di Pulau Kalimantan, tak semuanya disebabkan faktor alam.

Di dalamnya ada juga peran atau andil manusia.

Meski pemerintah pusat hingga pemerintah daerah gencar melakukan sosialisasi pelarangan pembakaran hutan dan lahan (karhutla), namun sebagian orang/pihak tetap tak mengindahkan.

Karena itu pula tahun ini sikap tegas diberlakukan yakni menangkap dan memproses hukum pelaku pembakar hutan/lahan.

"Saya sudah melakukan riset dan praktik di lapangan. Puntung rokok ketika dilemparkan ke rerumputan kering, tidak muncul lidah api. Cuma gosong saja. Bahkan ketika banyak puntung yang dilemparkan, apinya tetap gak muncul. Jadi, adanya kebakaran memang karena ada pemacunya yakni peran manusia," sebut Prof Acep Akbar dari Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK), Banjarbaru, Jumat (25/10/2019).

Baca: Balasan Rina Nose Disebut Kumpul Kebo dengan Josscy Aartsen Sebelum Menikah di Belanda

Baca: Kemarahan Mulan Jameela Saat Hal Pribadi Ahmad Dhani Dibahas, Eks Duet Maia Luapkan ini

Baca: Perselingkuhan Ditulis Raul Lemos, Krisdayanti Singgung Masa Depan, Rumah Tangga Eks Anang Disorot

Begitu halnya kebakaran di lahan pertanian, seperti di persawahan.

Jerami kering paacapanen memang rentan terbakar, namun umummya juga ada peran manusia ketika kemudian terjadi kebakaran di sawah.

Sebagian petani, sebut Pof Acep, juga masih beranggapan membakar jerami padi merupakan cara yang murah, mudah dan efektif untuk menyuburkan tanah dan menaikkan pH (prosentase of hydrogen).

Lebih dari itu di beberapa tempat, petani sejak dulu telah terbiasa membakar jerami padi dengan maksud untuk membasmi hama tikus dan ulat.

"Nah, ini makin bikin pelik. Saya masih belum menemukan cara yang tepat untuk mengubah kebiasaan ini," akunya.

Karena itu menurutnya upaya yang paking memungkinkan dilakukan yakni memberikan saran dan edukasi mengenai teknis pembakaran yang baik.

Contohnya meminta petani untuk membikin sekat bakar atau membatasi area yang akan dibakar sehingga tidak akan menjalar.

Dengan begjtu pembakaran area sawah terkendalikan secara baik.

Ketika pembakaran terkendali dilakukan, jelas Prof Acep, harus ada proses pengurangan kadar air bahan bakar (jerami).
Caranya yakni dijemur hingga kering sehingga pembakaran berlangsung secara sempurna sehingga tak menghasilkan asap.

"Tradisi kearifan lokal itulah yang dulu pernah dilakukan Suku Dayak dan Banjar di area perladangan mereka. Jadi saya kira solusinya adalah pembakaran terkendali," tandas Prof Acep.

Lebih lanjut ia menuturkan pemicu kebakaran hebat saat kemarau yakni banyaknya bahan bakar yang tersedia terutama bahan bakar halus (rerumputan kering) dan oksigen yang cukup.

"Berikutnya adalah ada faktor yang cukup mendukung ketika api itu sudah disulut akan cepat menjalar kemana-mana. Apalagi ketika terjadi di lahan yang tak jelas batasnya," sebutnya.

Itu sebabnya penguasaan lahan dalam skala cukup luas dan mangkrak, ini menjadi bagian lain yang juga memicu terjadinya kebakaran dalam skala yang luas pula.

Karenanya pemerintah perlu mendeteksi lahan-lahan seperti itu.

Kemudian juga ada faktor pendukung lain yaitu gejala alam El Nino yang membiat material alam menjadi teramat kering.

Lidah api akan menyebar secara cepat.

"Saya sudah mengukur, kecepatan kebakaran untuk lahan alang-alang itu 250 meter persegi per menitnya. Sedangkan untuk lahan gambut 160 meter persegi per menit," bebernya.

Kebakaran di lahan gambut lebih lambat. Masalahnya ketika api di gambut tidak diketahui secara dini.

"Maka ketika api itu sudah luas akan sulit dilakukan pemadaman," sebut Pro Acep.

Pasalnya, api gambut ada dua jenis yakni api permukaan dan api rooting (di zona perakarang).

Ketika petugas pemadam hanya konsentrasi pada api permukaan, maka pemadaman yang dilakukan tidak tuntas.

Itu karena api di zona perakaran tidak tersentuh. Masih menjadi bara yang kemudian bisa merambat lagi ke permukaan.

"Itu kelemahannya kenapa api gambut sulit dipadamkan karena fokusnya terhadap api permukaan. Tapi mungkin juga karrna petugas pemadamnya kelelahan karena aksenya yang susah," tandasnya.

(banjarmasinpost.co.id/roy)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved