Berita Tapin

Dinkes Tapin Gelar Rembuk Stunting, Ini Tujuannya

Dinas Kesehatan Kabupaten Tapin akan menggelar rembuk stunting di Pendopo Balahendang Rantau, Rabu (30/10/2019) nanti.

Dinkes Tapin Gelar Rembuk Stunting, Ini Tujuannya
banjarmasinpost.co.id/mukhtar wahid
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Tapin, Hj Ratna Ellyani Arifin Arpan menimbang anak di Posyandu Balita Desa Parigi Kacil, Kecamatan Bakarangan, Kabupaten Tapin, Sabtu (26/10/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Dinas Kesehatan Kabupaten Tapin akan menggelar rembuk stunting di Pendopo Balahendang Rantau, Rabu (30/10/2019) nanti.

Latar belakang rembuk stunting itu adalah secara nasional 1 dari 3 anak mengalami kasus stunting. Di Kabupaten Tapin, ditemukan 10 fokus kasus stunting.

Stunting ini adalah anak kerdil usia dibawah dua tahun. Panjang badan anak tak sesuai dengan berat badan anak normal. Bukan fisiknya pendek tapi pengaruh pada intelektual atau kecerdasan anak.

Rencana rembuk stunting itu diungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tapin, H Errani Martin saat mendampingi tim penilai lomba sekolah sehat di MIN 2 Tapin, Sabtu (26/10/2019).

Baca: Cari Lebah, Pria Ini Temukan Mayat Perempuan di Tengah Hutan Dikerumuni Lalat dan Duit Sekarung

Baca: Komentar Laudya Cynthia Bella Sikapi Polemik Utang Medina Zein dengan Zaskia Sungkar & Irwansyah

Baca: Terjangkit Difteri, Seorang Bocah 4 tahun di Sorong Papua Barat Meninggal

Baca: Apa Itu Organic Parenting, Kenali Gaya Asuh Anak Cara Alami Berikut Ini dari Psikolog Chitra Annisya

Errani Martin menjelaskan peserta rembuk stunting itu melibatkan tokoh masyarakat, kepala desa, para camat, PKK Desa dan organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tapin.

Rembuk stunting itu, ingin memperlihatkan permasalahan kesehatan di Kabupaten Tapin, khususnya kasus stunting anak dibawah usia 2 tahun.

Bagaimana upaya pencegahan dan upaya penanggulangan yang terjadi hingga penurunan angka kasus stunting.

Upaya pencegahan setelah rembuk stunting itu diantaranya, upaya pemenuhan gizi sensitif diluar kesehatan 70 persen ditangani lintas sektor.

"Upaya pemenuhan gizi spesifik 30 persen ditangani Dinas Kesehatan Kabupaten Tapin," katanya.

Pemenuhan gizi spesifik itu, jelas Errani Martin diantaranya, pemeriksaan kesehatan dan kunjungan serta pemberian vitanam untuk usia 1000 hari pertama kelahiran bayi harus diintervensi Pemerintah.

Baca: Live Streaming MotoGP Australia 2019, Valentino Rossi : Kualifikasi Minggu Pagi Bahayakan Pembalap

Baca: Live Bein Sports 1! Jadwal Tunda Barcelona vs Real Madrid di TV Online Liga Spanyol

Baca: Dipukul Rekannya Sesama Nelayan Pakai Balok Saat Duel, Suryadi Akhirnya Meninggal

Sementara, pemenuhan gizi sensitif, diantara contohnya adalah sanitasi yang meliputi dua cakupan ketersediaan air bersih dan penggunaan jamban yang sehat dan aman dengan harapan kejadian diare anak empat kali dalam sehari dapat teratasi.

"Harapan dari kegiatan rembuk stunting itu, terbentuknya konvergensi dan keterpaduan perangkat pemerintah dan masyarakat secara bersama mencegah stunting," katanya. (banjarmasinpost.co.id/ mukhtar wahid)

Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved