Tajuk

Pencemaran Udara

POLUSI, pencemaran udara; satu di antara polusi yang dirasakan insan, menjadi momok yang paling menakutkan. Betapa tidak, ancaman kesehatan

Pencemaran Udara
SHUTTERSTOCK
ilustrasi masker untuk menghindari terhirup udara yang tercemar 

BANJARMASINPOST.CO.ID - POLUSI, pencemaran udara; satu di antara polusi yang dirasakan insan, menjadi momok yang paling menakutkan. Betapa tidak, ancaman kesehatan manusia yang menjadi taruhannya, bahkan berdampak luas dalam semua aspek kehidupan.

Dalam suatu kenyataan, polusi disebabkan oleh aktivitas manusia sendiri, seperti kegiatan pabrik –tidak hanya udara, tapi partikel berbahaya lainnya-- mencemari lingkungan sekitar pabrik yang didirikan, jika tidak dipenuhi ketentuan-ketentuan yang diberlakukan.

Sebagaimana dirilis Banjarmasin Post, Jumat 25/10/2019 Rumah Daman Sering Kemasukan Debu Pabrik: Warga Lianganggang Keluhkan Pencemaran; sejumlah warga Kompleks Multi Madya, Lianganggang, Batibati, Tanahlaut, Kalimantan Selatan mengeluhkan polusi udara.

Hal itu mereka rasakan, sejak berdirinya pabrik yang memproduksi bahan bangunan nusaboard. Perusahaan itu menghasilkan limbah debu dari proses pencampuran silika, batu bara dan pasir. Asap dari cerobong pabrik dinilai warga kurang tinggi, juga mengeluarkan asap hitam.

Karena cerobong yang kurang tinggi itulah, sehingga kerap asap hitam tersebut terbawa angin ke arah kompleks hunian warga. Demikian pula suara bising mesin di pabrrik dan bau tak enak, sudah dirasakan Daman sejak perusahaan itu berdiri pada 2012.

Baca: BREAKING NEWS - Lagi Layani Tamu di Hotel, Cewek Publik Figur Terkenal Digerebek Petugas Polda Jatim

Baca: Bikin Jalur Alternatif Agar Jalan A Yani Tak Padat

Jika mencermati yang dikeluhkan warga Kompleks Multi Madya, Lianganggang, Batibati itu, polusi udaranya terjadi di luar ruangan. Yaitu, pembakaran bahan dari pabrik yang berbahaya dan bahan kimia lainnya yang terbawa ke udara.

Seperti dikeluhkan sejumlah warga di sana, polusi udara bisa masuk ke dalam rumah melalui jendela, pintu, ventilasi dan lubang sirkulasi udara lain yang terbuka. Bahkan sekalipun ditutup menggunakan plastik, tetap saja memberi bekas terhadap perabot rumah tangga mereka. Pencemaran udara untuk waktu yang cukup lama, berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat.

Sebagaimana dituturkan ketua RT di Kompleks Multi Madya, Lianganggang, Batibati, pihaknya sudah beberapa kali melapor ke kantor camat dan dipertemukan dengan pihak perusahaan pada 2014, namun belum didapatkan solusinya. Kembali pada 2018, warga dipertemukan dengan pihak perusahaan, yang diberi waktu hingga Desember 2019, agar mengurangi kebisingan, debu dan bau busuk.

Yang mengeherankan warga, beberapa kali petugas dari pemkab mengecek polusi, hasilnya selalu bagus. Sehingga warga, nyaris sudah tidak percaya lagi terhadap pengujian-pengujian tersebut.

Kalau tidak ada itikad baik dari perusahaan, boleh jadi [tidak sekadar diberi teguran] tindakan ditinjau kembali izin operasional pabrik tersebut, karena tidak sesuai ketentuan yang berlaku, misalnya.

Kenapa demikian. Sebab, merugikan warga yang tinggal di lingkungan pabrik tersebut. Harapan warga, perlu dilakukan pembenahan cerobong, suara bising, debu dan bau busuk; sehingga udara bisa menjadi bersih.

Lantas bagaimana pemerintah daerah, yang mengeluarkan regulasi dan memberikan izin. Juga anggota dewan, yang mewakili warga; sudahkah memberikan bantuan terhadap warga agar asanya terwujud. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved