Kriminalitas Internasional

Tentara Rusia Ini Tembak 8 Teman di Kepala, Terungkap Kasus Pelecehan di Pangkalan Siberia

Seorang tentara Rusia ditahan dengan dugaan menderita masalah kejiwaan setelah membunuh delapan temannya sendiri di Pangkalan Siberia.

Tentara Rusia Ini Tembak 8 Teman di Kepala, Terungkap Kasus Pelecehan di Pangkalan Siberia
Mladen Antonov / AFP
Tentara Rusia bersiap di Lapangan Merah Moskwa. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MOSKWA - Seorang tentara Rusia ditahan dengan dugaan menderita masalah kejiwaan setelah membunuh delapan temannya sendiri di Pangkalan Siberia.

Insiden itu terjadi di pangkalan Chita saat pergantian jaga. Selain delapan tewas, prajurit itu juga melukai dua temannya.

Dilansir BBC Jumat (24/10/2019), tentara itu diidentifikasi bernama Ramil Shamsutdinov. "Yang bersangkutan sudah ditahan," ujar Kementerian Pertahanan Rusia.

Penembakan itu terjadi di pangkalan kota Gorny, yang terlarang dari publik tanpa izin khusus, dan dikelola oleh direktorat Kemenhan yang mengurusi senjata nuklir.

Baca: BREAKING NEWS - Lagi Layani Tamu di Hotel, Cewek Publik Figur Terkenal Digerebek Petugas Polda Jatim

Baca: VIRAL VIDEO Gubernur Jateng Ganjar Dimarahi Warga Beredar di Media Sosial, Ganjar: Masya Alloh!

Baca: VIRAL Ari Lasso Marah dengan BCL, Gara-gara Pasang Emoji Ini di Fotonya Mirip Menteri Siti Nurbaya

Baca: Artis Jakarta Kembali Diciduk Polda Jatim Atas Kasus Prostitusi Online Setelah Vanessa Angel

Dalam keterangan Komite Investigasi, insiden itu terjadi pukul 18.15 waktu setempat, di mana Shamsutdinov membunuh dua perwira dan enam tentara.

Menurut pemberitaan media setempat, kedelapan prajurit itu tewas setelah ditembak di kepala dengan otoritas menyebut tak berkaitan dengan masalah kerja.

"Aksi dari tentara ini mungkin karena masalah kejiwaan, bukan karena tugas militernya," terang Kemenhan Rusia dalam rilis resmi dilansir AFP.

Andrei Kurochkin, Wakil Ketua Committee of Soldiers' Mothers menuturkan, kasus pembunuhan itu adalah dampak dari keputusasaan dan pelecehan.

"Para komandan itu menutup mata dalam kasus perundungan sistematis," katanya. Perwira senior sering menyita ponsel korban untuk mencegahnya mengeluh.

Kurochkin menjelaskan mereka berdalih demi melindungi rahasia negara. Namun faktanya adalah si korban terus mengalami perundungan.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved