Breaking News:

Berita Banjarmasin

Rektor UIN Antasari Mujiburrahman : Era Industri Bukan Berarti Budaya Lokal Keagamaan Hilang

Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin menggelar The 2th Antasari International conference (AIC) 2019,

banjarmasinpost.co.id/syaiful anwar
Pembukaan The 2th Antasari International conference (AIC) 2019 

BANJARMASIN POST.CO.ID - Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin menggelar The 2th Antasari International conference (AIC) 2019, Local and Global Islam In The Industrial Revolution 4.0 di Golden Tulip Galaxy Banjarmasin, Kamis (31/10/2019).

Seminar yang dibuka Sekda Kota Banjarmasin, Hamli Kursani mewakili Wali Kota, menghadirkan Prof Jeffey T Kenney dari Fullbright De Pauw University, Amerika, Dr Khatijah bt Othman (USIM Alamiyah asal Malaysia.

Selanjutnya, Dr Suliman Hasan Suliman Eyal Warfali dari Al- Refaq University, Libya,
Prof Dr Euis Nurlaelswati, MA asal UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Dr Saifuddin Ahmad Husin MA mewakil UIN Antasari Banjarmasin.

Rektor UIN Antasari, Prof Dr H Mujiburrahman, MA mengatakan pihaknya harus memahami dunia berubah atau istilahnya disebut revolusi dimana terjadi perubahan yang luar biasa dan tidak bisa diprediksikan.

Baca: KPPN Pelaihari Raih Juara Satu Kantor Pelayanan Terbaik Kemenkeu 2019

Baca: Iseng dan Suka Bertukar Posisi, Kemiripan Wajah Bagas dan Bagus Bikin Pusing Pelatih di Inggris

Baca: Sewotnya Ayu Ting Ting Ditanya Ancaman Laporan Enji Baskoro, Ayah Kandung Bilqis Khumaira Razak

Baca: LINK Live Streaming TV Online Barito Putera vs Borneo FC Liga 1 2019, Siaran Langsung Vidio.com

"Perubahan itu menyangkut semua aspek kehidupan, termasul agama, gaya hidup, ekonomi, budaya, politik. Semuanya berpengaruh, termasuk perkembangan Islam sebagai fenomena sosial atau sebagai ajaran praktek keagamaan," tandasnya.

Ditambahkan Mujiburrahman, itu semua karena adanya media baru atau social media yang membuat semuanya terhubung satu sama lain dengan mudah dan cepat serta murah.

Namun, lanjut dia, di era globalisasi ini budaya lokal tidak berarti sama sekali hilang, termasuk budaya lokal keagamaan.

"Dalam era global bagi industri 4.0 ada paradok yang mungkin positif. Disatu sisi, mirip satu sama lain dan disisi lain terekpos ada perbedaan yang lebih intensif," tegasnya.

Jadi, lanjut Mujib, dua sisi harus dipahami dan kemudian dikelola dengan baik. Para akademisi harus mempelajari dengan serius dan memberikan pencerahan kepada masyarakat. Jangan sampai akibat-akibat negatif yang terjadi.

Ketua Panitia Pelaksana, Noor Hasanah, MA mengatakan, peserta seminar tidak hanya berasal dari univesitas di Kalsel juga seluruh Indonesia.

"Peserta yang ikut seminar tidak sembarangan, harus mengikuti seleksi terlebih dahulu," katanya.

Selain seminar, mulai sore juga dilanjutkan pemaparan 47 makalah dari berbagai daerah di Indonesia.

Baca: 18 Sekolah Ditetapkan Jadi Sekolah Model, Guru Khalil Berharap Jadi Contoh Bagi Sekolah Lain

Baca: Tabung Gas Dibawa Penumpang Meledak, 65 Orang Tewas dalam Kebakaran Kereta di Pakistan

Baca: 5 Fakta Video Syur Mirip Nagita Slavina yang Bikin Raffi Ahmad Meradang, Serupa Gisella Anastasia?

"Sebenarnya ada 60 orang mengirim makalah, tapi kita seleksi lagi dan tidak memenuhi persyaratan seperti struktur tata bahas, keseuain dengan tema dan lain-lain," ungkapnya.

Dia menambahkan dalam penulisan makalah bisa menggunakan tiga bahasa, Inggris, Arab dan Indonesia.

"Tindak lanjutnya, makalah yang terbaik akan dimasukkan dalam Jurnal UIN Antasari," papar dosen Pendidikan Agama UIN Antasari ini. (banjarmasin post.co.id/syaiful anwar/*)

Penulis: Syaiful Anwar
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved