Berita Tapin

Sidang Kasus Dugaan Pencabulan Pelatih Pencak Silat Tapin, Pembela Bripda IAD Keberatan Dakwaan JPU

Kasus dugaan pencabulan dan persetubuhan IAD pelatih pencak silat Tapin terhadap korban R (19), berproses di Pengadilan Negeri Rantau, Kamis (31/10)

Sidang Kasus Dugaan Pencabulan Pelatih Pencak Silat Tapin, Pembela Bripda IAD Keberatan Dakwaan JPU
banjarmasinpost.co.id/mukhtar wahid
Indra Kusuma SH, Humas Pengadilan Negeri Rantau 

BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Kasus dugaan pencabulan dan persetubuhan IAD pelatih pencak silat Tapin terhadap korban R (19), berproses di Pengadilan Negeri Rantau, Kamis (31/10/2019).

Humas Pengadilan Negeri Rantau, Indra Kusuma mengatakan sidang perdana itu agendanya pembacaan dakwaan oleh jaksa penuntut umum dari Kejaksaan Negeri Tapin.

Penasihat hukum terdakwa dengan surat kuasa khusus, sebut Indra Kusuma mengajukan keberatan dengan dakwaan jaksa penuntut umum.

Menurut Indra, jaksa penuntut umum mendakwa pelaku dengan dakwaan primer dan dakwaan sekunder, dakwaan primer melanggar pasal 81 ayat 3 jo pasal 81 ayat 2 Undang -Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Baca: Kasus Pencabulan Guru Pencak Silat Terhadap Anak Didik di Tapin Segera Disidangkan

Baca: Seleksi CPNS 2019-2020, Pemprov Kalsel Dijatah 460 Formasi, Detil Rincian Dikonsultasi ke Pusat

Baca: Kemarahan Nagita Slavina Disebut Raffi Ahmad, Terkait Video Syur Seperti Dialami Gisella Anastasia?

"Sidang ditunda pekan depan, agendanya mendengar keberatan dari penasihat hukum terdakwa," katanya kepada para wartawan.

Menurut Indra Kusuma, setelah keberatan dibacakan, majelis hakim akan memberikan putusan sela setelah mendengar tanggapan dari penuntut umum atas keberatan penasihat hukum terdakwa.

Apabila keberadaan dari penasihat hukum terdakwa diterima majelis hakim, maka otomatis kasus dianggap selesai dan sebaliknya jika keberatan terdakwa ditolak oleh majelis hakim, proses perkara dilanjutkan hingga pemanggilan para saksi.

Majelis hakim yang memeriksa perkara asusila oknum anggota kepolisian di Tapin itu dipimpin Erven Langgeng Kaseh dan dua hakim anggota, Yohanes Purnomo Suryo Adi dan Indra Kusuma.

Sidang itu terasa istimewa, sebab Erven Langgeng Kaseh adalah Ketua Pengadilan Negeri Rantau, Yohanes Purnomo Suryo Adi adalah Wakil Ketua Pengadilan Negeri Rantau dan Indra Kusuma adalah Humas Pengadilan Negeri Rantau.

Sebelum sidang dibuka, ketua majelis hakim Erven Langgeng Kaseh menyatakan sidang kasus asusila itu tertutup untuk umum, termasuk pengambilan dokumentasi oleh para wartawan.

Sidang asusila itu dinyatakan terbuka untuk umum, ungkap Erven Langgeng Kaseh pada saat majelis hakim membacakan putusan majelis saja.

Baca: Tak Kalah Sedih Dari Ayu Ting Ting & Inul Daratista, Via Vallen Curhat Kemiskinan di Masa Lalu

Baca: Hari Kelima Operasi Zebra Intan 2019, Satlantas Polresta Banjarmasin jaring 2.400 Pelanggar

Informasi dihimpun reporter Banjarmasinpost.co.id, kasus itu berawal dari dugaan kasus asusila antarpendekar perguruan pencak silat di Kabupaten Tapin.

Pelatih Pencak Silat Tapin diduga menodai muridnya saat sedang mengikuti Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Cabang Pencak Silat di Kota Banjarmasin, pada 2016 lalu.

Orangtua korban kaget mengetahui pengakuan putrinya yang merasa diteror pelatihnya yang berpangkat Brigadir Kepala (Bripka).

Orangtua korban membuat laporan polisi dan pelatih pencak silat itu ditangkap. Polisi menjerat dengan pasal 81 juncto pasal 82 Undang-Undang Perlindungan Anak. (banjarmasinpost.co.id/ mukhtar wahid)

Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved